Kenapa Banyak Orang Jawa Bernama 'Su' Seperti Soekarno, Suharto dan Lain-lain, Inilah Filosofinya
Selain itu, zaman dulu, orangtua sering memberi nama berdasarkan bahasa Sansekerta yang artinya sesuai dengan doa dan harapan
Suharto artinya orang yang paling banyak hartanya.
Tidak hanya murni bahasa Sansekerta, orang Jawa punya kebudayaan yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Arab.
Ini menghasilkan nama-nama orang Jawa juga sedikit banyak mengandung kata serapan dari kedua bahasa itu.
Slamet, misalnya. Slamet adalah nama dari bahasa Arab 'salam' yang artinya kedamaian dan keselamatan.
Baca: Daus Mini Nikahi Wanita Cantik Berhijab, Inilah Kabar Yunita Lestari Mantan Istrinya Sekarang
Dengan arti yang baik itulah, orangtua berharap anak mereka bisa seperti namanya.
Sehingga orang Jawa kuno sering percaya dengan istilah "kabotan jeneng".
Kabotan jeneng artinya nama yang diberikan terlalu berat.
Doa dan harapan orangtua tidak cocok dengan keadaan anak-anak mereka.
Anak-anak yang dipercaya mengalami "kabotan jeneng" ini harus dirubah namanya dengan prosesi adat seperti tumpengan bahkan diruwat.
Begitu istimewanya arti nama bagi orang Jawa dan filosofi di baliknya.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, lebih sedikit orang Jawa modern yang memberi nama berawalan 'Su' pada anak-anaknya.
Namun, pedoman nama adalah doa masih terus dipertahankan.
Baca: TAHUKAH ANDA! 7 Makanan Ini Sering Diletakkan dalam Kulkas, Inilah Seharusnya
(Aulia Dian Permata)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/presiden-soekarno_20170822_110139.jpg)