Kasus Narkoba

Ponpes Takmirul Islam Bantah Rilis BNNP Jateng, Agung Bukan Ustaz

Pondok Pesantren Takmirul Islam, Solo, membantah keras bahwa Agung Rukiyanto merupakan ustaz ponpes tersebut

Ponpes Takmirul Islam Bantah Rilis BNNP Jateng, Agung Bukan Ustaz
TRIBUN JATENG/RAHDYAN TRIJOKO P
Brigjen Tri Agus Heru Prasetyo menunjukkan barang bukti berupa sabu pada gelar perkara di kantor BNNP Jateng, Rabu (3/5/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Agung Rukiyanto menjadi satu dari dua tersangka penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang dirilis oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Senin (9/4). Diinformasikan bahwa Agung merupakan seorang ustaz salah satu pondok pesantren di Solo.

Pondok Pesantren (Ponpes) Ta'mirul Islam, Solo, membantah keras bahwa Agung Rukiyanto merupakan ustaz atau staf pengajar di ponpes tersebut. Mereka bahkan menegaskan tak ada karyawannya bernama Agung Rukiyanto.

Seorang pimpinan Ponpes Ta'mirul Islam, Mohammad Adhim saat menggelar konferensi pers di ponpes tersebut, Selasa (10/4) menyatakan pihaknya membantah pernyataan BNNP Jateng bahwa Agung Rukiyanto yang mereka tangkap adalah ustaz dan salah satu pengajar Ponpes Ta'mirul Islam.

"Kami nyatakan tersangka pengedar sabu-sabu Agung Rukiyanto yang ditangkap BNNP Jawa Tengah di Sragen, Jumat (6/4), membawa sabu-sabu 10 gram bukan ustadz atau pengajar di Pondok Pesantren Ta'mirul Islam," ujarnya.

Bahkan ia menyebut Agung juga bukan satpam, sopir, cleaning service atau tukang masak atau karyawan yang lainnya dengan posisi apapun di ponpes tersebut.

"Yang bersangkutan juga bukan santri atau wali santri di institusi kami. Pendeknya yang bersangkutan tidak mempunyai hubungan struktural sama sekali dengan institusi kami," kata dia.

Meski begitu ia tak menampik Agung sering berada di ponpes, karena Agung merupakan salah satu warga tinggal tak jauh dari ponpes.

Agung, menurutnya juga merupakan jamaah binaan dan seringkali mendatangi pengajian KH Muhammad Ali atau Abah Ali.

Mohammad Adhim (kiri) saat gelar jumpa pers di Ponpes Ta'mirul Islam Solo, Selasa (10/4/2018).
Mohammad Adhim (kiri) saat gelar jumpa pers di Ponpes Takmirul Islam Solo, Selasa (10/4/2018). (Tribunjateng.com/Akbar Hari Mukti)

"Abah Ali adalah salah satu dari guru kami. Yang dalam pengabdian masyarakatnya berusaha merehabilitasi dan menginsyafkan orang-orang jalanan. Agung Rukiyanto merupakan salah satu warga yang dibina beliau," paparnya.

Disinggung terkait program pembinaan yang dilakukan Abah Ali, Adhim mengaku tak tahu-menahu. Program pembinaan itu, katanya, dilakukan secara personal di luar Ponpes.

"Kami ingin klarifikasi ini kasus tersebut tuntas tanpa proses lain yang bertele-tele," urai dia.

Sebelumnya diberitakan, Agung Rukiyanto bersama rekannya, SYN (53) diduga mengonsumsi dan menjadi kurir sabu karena ketika ditangkap, keduanya sedang mengambil paket sabu di Sragen.

“Tersangka ini kurir sekaligus pemakai”, kata Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah Brigjen Pol.Tri Agus Heru kepada wartawan di Semarang, Senin (9/4), (tribunjateng/ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved