Biar Bisa Dilalui Saat Mudik, PT Waskita Karya Kebut Pengerjaan Tol Semarang-Batang
PT Waskita Karya (Persero) Tbk, sedang melakukan percepatan pembangunan jalan tol agar bisa dilalui kendaraan pada Lebaran mendatang.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: galih permadi
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelaksana proyek pembangunan jalan tol Semarang-Batang, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, sedang melakukan percepatan pembangunan jalan tol agar bisa dilalui kendaraan pada Lebaran mendatang.
Kepala Seksi Keuangan dan SDM PT Waskita Karya, Idi Heryadi menuturkan, upaya percepatan yang dilakukan yaitu dengan menambah jumlah pekerja pada seksi 4 (Kendal) dan seksi 5 (Kota Semarang).
Dari sebelumnya hanya 600-an orang pekerja, sekarang menjadi 1.000 orang.
Selain penambahan jumlah pekerja, PT Waskita juga menambah alat kerja.
Di antaranya penambahan jumlah crane ekskavator, dump truk, dozzer, motor grader, vibro, dan lainnya. Kemudian, jam kerja juga ditambah menjadi dua sif sampai malam hari.
"Percepatan ini kami lakukan untuk mengejar target sampai Lebaran mendatang. Akan tetapi, dari realita lapangan, Lebaran nanti jalan tol baru bisa fungsional dengan satu jalur," kata Idi, saat ditemui di kawasan BSB City, Rabu (11/4/2018).
Ia memaparkan, pembangunan seksi IV yang berada di wilayah Kendal memiliki panjang jalan13 km.
Sedangkan seksi V yang berada di Kota Semarang, panjang jalan tol 10,4 km. Dari pembangunan yang sudah dilakukan, saat ini baru mencapai 74,322 persen.
Padahal berdasarkan jadwal pekerjaan, seharusnya pembangunan sudah mencapai 90 persen. Artinya ada keterlambatan pekerjaan sekitar 15 persen dari dua seksi di wilayah Kota Semarang dan Kendal.
"Keterlambatan pekerjaan ini karena ada kendala di lapangan. Yaitu ada sejumlah lahan yang belum terbebaskan, di antaranya makam dan masjid. Baik di wilayah Kota Semarang maupun di Kendal," jelas Idi.
Kepala Seksi Administrasi Kontrak PT Waskita Karya, Ronald Aldriano memaparkan, kendala lahan yang belum terbebaskan yaitu makam di Klampisan, Jalan Honggowongso Ngaliyan.
Kemudian masjid Al-Mustaghfirin di Beringin. Dan satu lahan milik warga yaitu Sri Urip.
"Itu yang seksi V atau di Kota Semarang. Sementara yang di seksi IV atau di Kendal, ada 131 bidang lahan yang belum terbebaskan yang tersebar di Desa Magelung, Menjalin, Kertomulyo, Sumbersari, Nolokerto, Sumberrejo. Tapi saat ini sudah proses konsinyasi di PN Kendal," tambahnya.
Dari keterangannya, makam di Klampisan, Ngaliyan, ada 1.300 titik makam. Proses relokasi makam yang merupakan tanah wakaf tersebut tinggal menunggu waktu saja karena sudah tidak ada keberatan dan warga dan sudah ada lahan pengganti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pekerja-melakukan-pembangunan-jalan-tol-semarang-batang-di-ngaliyan_20180411_222625.jpg)