Tangis Pilu Keluarga Daniel, Bocah SMP yang Tewas karena Halau Mobil Teroris
Daniel tidak pernah membuat onar, ia terbilang remaja yang bisa bergaul dengan siapapun.
Penulis: Awaliyah P | Editor: abduh imanulhaq
Mendengar letusan, ia lantas berlari dan segera menolong korban luka-luka
"Saya langsung fokus ke anak, saya cari anak saya tapi ga ketemu." ungkapnya.
Polisi dan dokter memberikan keterangan bahwa Daniel memang meninggal di lokasi.
Sehari-hari, Daniel diasuh oleh neneknya.
Sumijah menceritakan bahwa Daniel sudah ditinggal ibunya sejak usia dua tahun.
Di mata Sumijah, Daniel merupakan sosok anak yang baik dan penurut.
Daniel tidak pernah membuat onar, ia terbilang remaja yang bisa bergaul dengan siapapun.
"Ditinggal ibunya sejak usia dua tahun. Dia baik-baik aja, menjadi anak yang taat, yang penurut. Saya mengajarkan harus cinta Tuhan, harus setia pada Tuhan, suka berdoa, suka baca firman. Itu yang selalu saya ajarkan, bisa jadi teladan di sekolah." Kenang Sumijah.
Air matanya berlinang tatkala mengenang cucunya itu.
Tidak hanya di mata Sumijah, namun teman-teman serta guru di sekolahnya juga mengatakan bahwa Daniel adalah sosok murid yang penurut.
Tewasnya Daniel meninggalkan luka mendalam di hati Novi, kakaknya.
Novi terlihat menangis di sebuah sudut rumah.
Budi mengatakan bahwa Novi sampai trauma mengetahui kematian adiknya.
"Tuhan mengasihi kita semua, bahkan sangat mengasihi kita, bhakan sangat mengasihi kita. Daniel jadi pahlawan, menyelamatkan jiwa orang banyak. Kita harus bersyukur, apapun yang terjadi kita harus kuat." kata Sumijah menenangkan Novi.
Tangis Novi jatuh saat dipeluk neneknya.
Kemarin, bom bunuh diri juga diledakkan di Mapolda Riau, Rabu (16/5/18). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mata-najwa-eksklusif_20180517_093703.jpg)