Waspada Gunung Merapi
Sehari Merapi Dua Kali Erupsi, Sultan Minta Warganya Waspada
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X mengunjungi BPPTKG Yogyakarta, Kamis (24/5).
TRIBUNJATENG.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X mengunjungi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Kamis (24/5). Kunjungan ini berkaitan dengan pantauan aktivitas Gunung Merapi yang menggeliat beberapa hari terakhir.
Sebelum menemui awak media, Sultan masuk ke ruang CCTV BPPTKG Yogyakarta dan menerima penjelasan dari Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida. Sekitar 20 menit menerima penjelasan, Sultan memberikan keterangan pada awak media.
Pria yang juga Raja Keraton Kasultanan Yogyakarta ini mengimbau, masyarakat terutama yang tinggal dan berada di lokasi yang masuk radius rawan terdampak langsung erupsi tetap tenang. Namun demikian, warga harus mewaspadai bila sewaktu-waktu Merapi erupsi.
"Warga Merapi sudah tahu. Kalau ada yang turun (mengungsi) kita fasilitasi. Namun ada juga yang masih di atas. Masing-masing punya rasa takut berbeda," kata Sultan.
Pemerintah, lanjutnya, terus berusaha memberikan informasi terkini tentang aktivitas Gunung Merapi, agar masyarakat bisa merespons ketika sewaktu-waktu terjadi erupsi.
"Sekali lagi saya meminta masyarakat untuk tetap tenang tapi waspada. Memang setiap letusan tak terjadi begitu saja, ada prosesnya. Ini level waspada, kalau levelnya naik masih ada status siaga dan awas. Kita masih pantau, sementara ini kecenderungan menurun," imbuh Sultan.
"Kalau gunung (erupsi) kan ada tahapnya. Jadi kalau konsisten menghindari korban sebenarnya bisa, hanya manut opo ora (menurut atau tidak), karena tahapnya, kan jelas," imbuh ayah lima puteri ini menegaskan.
Erupsi dua kali
Kemarin, Merapi kembali bergolak. Namun berbeda dengan sebelumnya, letusan disertai adanya titik pijar merah. BPPTKG Yogyakarta menerangkan, fenomena tersebut merupakan proses menuju letusan magmatis.
Namun, BPPTKG menjelaskan letusan magmatis tidaklah selalu terjadi berupa erupsi skala besar seperti yang terjadi pada tahun 2010. "Jangan dibayangkan magmatis itu hanya seperti 2010 yang erupsinya besar," jelas Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Kamis (24/5).
Kemarin, Merapi megalami dua kali erupsi. Pertama terjadi pada pukul 02.56, beramplitudo 60 mm. Durasi erupsi tercatat selama 3,5 menit dengan tinggi kolom 6.000 meter mengarah ke barat. Saat terjadi erupsi, suara gemuruh dilaporkan terdengar di semua pos pengamatan. Kali ini erupsi mengakibatkan terjadinya hujan abu disertai pasir.
Erupsi kedua terjadi pada pukul 10.48, berdurasi lebih kurang 2 menit dengan tinggi kolom mencapai 1.500 meter. Arah letusan masih ke barat dan amplitudo tercatat mencapai 44 mm. Dari informasi yang diterima BPPTKG Yogyakarta, terdengar gemuruh dari Pos Bahasan saat letusan ini terjadi.
Mengacu pada petugas Pemantau Gunung Merapi (PGM) dan BPBD Kabupaten Magelang, yang terdampak langsung hujan abu disertai pasir ini meliputi wilayah desa Tegalrandu, Sumber, Dukun, Ngadipiro, Banyubiru, Muntilan, Mungkid, Menayu, Kalibening, dan Salaman.
Hanik memberikan contoh, beberapa erupsi magmatik yang pernah terjadi tidak semuanya selalu dalam skala letusan besar. "Misalnya tahun 2006 itu juga magmatis, contoh lainnya Gunung Kelud 2007 yang hanya menimbulkan kubah lava, atau (erupsi) Merapi 2002 itu juga magmatis," imbuhnya.
Selain itu, tanda-tanda yang diberikan oleh Gunung Merapi sejauh ini juga belum menunjukkan proses magmatis akan segera terjadi. "Bukan berarti kalau magmatis itu meletus besar. Saat ini masih terjadi inflasi, dan belum deflasi. Jika sudah terjadi deflasi itulah benar-benar sudah memasuki proses magmatis," papar Hanik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/raja_20150501_063019.jpg)