Pengamat: Sulit Dibayangkan Jika Prabowo Bersanding dengan Gatot di Pilpres
Dua figur Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, akan kembali bertarung untuk mendulang suara rakyat.
Penulis: yayan isro roziki | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pertarungan perebutan kursi orang nomor satu di Indonesia pada 2019 tampaknya akan serupa dengan gelaran pemilihan presiden (Pilpres) 2014 silam.
Dua figur Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, akan kembali bertarung untuk mendulang suara rakyat.
Demikian disampaikan Direktur Ekskutif Developing Countries Studies Center (DSCS), Zaenal A. Budiyono.
"Hal ini karena peluang munculnya poros ketiga semakin kecil," kata Zaenal, melalui keterangan tertulis yang diterima Tribun Jateng, Sabtu (23/6/2018).
Terutama, sambung dia, jika judicial review presidential threshold (PT) sebesar 20 persen, yang saat ini tengah digugat sejumlah kalangan, kandas di Mahkamah Konstitusi (MK).
Di samping PT 20 persen, menurutnya, tak ada figur lain yang popularitas dan elektabilitasnya mampu menandingi atau hanya sekadar mendekati keduanya.
Sehingga, tandas Zaeanl, partai politik (parpol) yang ada saat ini cenderung tak mau ambil risiko dengan mengusung figur alternatif.
"Parpol bermain aman, ini soal perebutan kekuasan, secara hitung-hitungan mereka tentu tak mau kalah," tandas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Al-Azhar Indonesia itu.
Saat ini, ucapnya, pekerjaan rumah (PR) masing-masing koalisi pengusung adalah mencari bakal calon wakil presiden (Cawapres) yang ideal untuk Jokowi dan Prabowo.
"Pertarungan sengit justeru ada di sini, penetuan figur cawapres. Ada sejumlah nama yang terus dibahas oleh elit kedua kubu," ucap dia.
Di kubu Jokowi, nama-nama bakal cawapres banyak sekali yang muncul dan layak dipertimbangkan.
Antara lain, mantan panglima TNI Moeldoko, mantan menteri pertahanan (Menhan) era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Mahfud MD, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, dan juga Gatot Nurmatyo.
Belum lagi, sambungnya, nama-nama ketua umum (Ketum) partai politik. Semisal, Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan Romahurmuziy (Rommy), serta Ketum Golkar Airlangga Hartarto.
"Bila pertimbangannya adalah kekuatan politik, bisa jadi Jokowi akan memilih figur dari partai, yang jelas punya basis massanya," urainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kedatangan-prabowo-subianto-ketua-umum-partai-gerindra_20180623_155736.jpg)