Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Dwi, Warga Karanganyar, saat Gempa dan Tsunami Palu. Naik ke Bungkit dan Hampir Pingsan

Sebulan yang lalu, mereka merantau ke Palu, Sulawesi Tengah, untuk bekerja sebagai tukang bangunan

Tayang:
Penulis: Yasmine Aulia | Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Yasmine Aulia Gunawan
Dwi Purnomo warga asal Karanganyar ceritakan kisahnya saat bencana di Palu terjadi. Jumat (5/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yasmine Aulia

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Enam dari 12 warga Karanganyar yang jadi korban bencana di Palu telah tiba kembali di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (5/10/2018) pagi.

Sebulan yang lalu, mereka merantau ke Palu, Sulawesi Tengah, untuk bekerja sebagai tukang bangunan.

"Kami diajak untuk bekerja di sana, saat kejadian itu sedang bangun perumahan di area Palu Timur," tutur Dwi Purnomo (40) asal Karangpandan, Karanganyar.

Pada tanggal 31 Agustus 2018, mereka tiba di Palu. Kemudian mulai bekerja pada 2 September 2018 di wilayah Palu Timur.

Hari-hari selama hampir sebulan mereka bekerja sebagai tukang bangunan di Palu berjalan seperti biasa.

Namun berbeda pada sore hari, Jumat (28/9/2018), saat perjalanan pulang 12 orang warga Karanganyar ini dari lokasi proyek ke mess mereka tidak seperti biasanya.

Gempa dirasakan semua yang berada di atas pickup pengangkut 12 orang warga Karanganyar itu.

"Kemudian kami terus melanjutkan perjalanan menuju mes, letaknya sekitar 500 m dari pesisir pantai, yaitu di Kelurahan Birobuli, Palu Timur.

Kondisi semua aspal telah retak, air pdam juga berhamburan kemana-mana, suasana saat itu sangat kacau," kisah Dwi pada Tribunjateng.com.

Dwi melihat ribuan orang berlarian menuju ke arah pick-upnya sambil berteriak-teriak. "Air... air naik, air naik . . .," seru masyarakat sambil berlarian.

Supir pick up sempat kebingungan kemana harus mengemudikan lajunya, Dwi pun mengajak rekan-rekannya untuk turun dari pick up dan berlari menuju ke arah dataran tinggi.

Namun hanya 6 dari 12 orang yang menyetujui ide tersebut, termasuk Dwi.

Kemudian enam orang asal Karanganyar itu berlarian dan berjalan seperti masyarakat lainnya menuju perbukitan dengan menempuh waktu sekitar 1,5 jam.

"Beberapa rekan hampir pingsan, posisi itu kami sehabis pulang kerja jadi memang badan capek.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved