Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berada di Antara Para Ustadz, Sudjiwo Tedjo Bicara Terkait Radikalisme hingga Penonton ILC Terpana

Seniman Sudjiwo Tedjo memberikan penjelasan terkait radikalisme di antara para ustaz di acara ILC. Para ustadz tersebut terpana

Penulis: Ardianti WS | Editor: abduh imanulhaq
Youtube
Sudjiwo Tedjo Beberkan terkait radikalisme yang diduga terserang radikalisme 

TRIBUNJATENG.COM- Seniman Sudjiwo Tedjo memberikan penjelasan terkait radikalisme di antara para ustaz di acara ILC.

TribunJateng.com, melihat melalui akun Youtube Indonesia Lawyers Club yang diunggah pada Selasa (27/11/18).

Mulanya, Sudjiwo Tedjo mengaku kebingunggan dihadirkan dalam forum tersebut lantaran hanya dirinya yang berprofesi sebagai seniman sementara narasumber yang lain adalah seorang ustadz. (di dalam KBBI: Ustaz).

Sudjiwo lantas mengatakan ada beberapa kategori penceramah.

"Ada Khatib yang tenang, adapula Khatib yang tidak tenang, padahal keduanya ini berbeda, yang satunya tenang apa banyak sistem konflik lahan tapi nggak dilawan, tapi banyak para pendengar yang senang, makanya banyak temanku yang mengurusi konflik lahan, adapula yang ustaz keras padahal baik, hati-hati kita lihat radikalisme sama enggak, jangan-jangan semua itu radikal," ujarnya.

Ketika Inul Daratista Dipeluk dan Bersandar Manja di Bahu Jonathan Christie, Seperti Adik Kakak

Prakiraan Cuaca BMKG Tegal Raya, Siang Nanti Diguyur Hujan Ringan

Highlight dan Gol-gol AS Roma vs Real Madrid di Liga Champions, Sundulan Bale Perdayai Serigala Roma

Peruntungan Shio Hari Ini Rabu 28 November, Tahun Anjing Tanah Imlek 2659

Sudjiwo Tedjo lantas mengatakan memberikan analogi terkait gerakan radikalisme.

"Ceramah Khatib yang satu menenangkan tapi banyak orang miskin, yang satu khatib yang bikin nggak tenang karena harus ada yang diperjuangkan, melawan kemiskinan," ujar Sudjiwo Tedjo.

Mendengar pernyataan itu, Ustaz Tengku Zulkarnain, Ali Ngabalin hingga seluruh peserta tampak fokus mendengarkan.

Tampak para ustaz yang hadir di tempat tersebut sepakat dengan pernyataan Sudjiwo Tedjo.

Diketahui sebelumnya Badan Intelijen Negara (BIN), hasil survei P3M NU menunjukkan temuan soal 41 dari 100 masjid di lingkungan kantor pemerintah di Jakarta, yang terpapar radikalisme.

di ILC, Jusuf Kalla mengaku prihatin dengan hasil survei tersebut.

"Kalau membaca secara sederhana, ini studi yang sangat memprihatinkan. Kalau orang menyimpulkan sederhana, dia bisa mengatakan 41 masjid pemerintah radikal. Wah itu bahaya. Masjid pemerintah saja radikal apalagi di tempat lain," ujar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla mengatakan studi tersebut belum matang dan perlu ditelusuri kembali.

Jadi cara studinya mungkin kaidah-kaidahnya studinya perlu ditelaah kembali. tidak seperti itu. karena, apalagi saya mendengar tadi ada radikal yang ringan, berat, pertama kali saya dengar istilah-istilah itu.

"Kemudian saya ingin jelaskan, kita harus hati-hati, jangan-jangan khotibnya mengerti, dalam rangka amar ma'ruf nahi mungkar di tulis radikal. Jangan disamakan pula, ini sama dengan survei pemilu. Dengan seribu orang mengatasnamakan sejuta orang.

Kalau seratus masjid bisa mengatasnamakan semua mesjid, ini sangat prihatin."

"Tentu soal radikal, ya dalam konteks apa? mudah-mudahan ini hanya diskusi saja. pertama kali itu saya dengar kata terpapar (radikalisme)," ujar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Umum pengurus pusat Dewan Masjid Indonesia (DWI) tidak setuju dengan pengambilan sample isi khotbah atau ceramah.

"Supaya diketahui, bahwa masjid itu, ada 34 ceramah perbulan. Karena umumnya masjid itu, habis dhuhur, ada kultum atau ceramah, Jumat tentu ada, jadi banyak sekali bukan hanya 4 kali saja sebulan.

Masjid itu tidak radikal, yang dianggap berbicara keras itu diundang dari luar, bukan khatibnya masjid situ. Karena itulah maka, kalau anda buka data, lengkap siapa khatib yang mengisi."

Jusuf Kalla menuturkan ia telah membaca hasil survei dan mengaku tidak paham mengapa kantor masjid di kantor Menko menjadi masjid yangpaling di katakan radikal.

Penjelasan Jose Mourinho Atas Selebrasi Banting Botol Minuman di Liga Champions

Ramalan Zodiak Hari Ini Rabu 28 November 2018, Aries Kurangi Egomu

Peruntungan Shio Hari Ini Rabu 28 November, Tahun Anjing Tanah Imlek 2659

"Jangan kita salah pengertian, dan itu berbahaya sekali, dan saya baca laporannya, yang radikal berat, justru kantor Menko, justru ingin membina bangsa ternyata radikal.

Waduh, hati-hatilah membuat studi seperti itu. berbahaya untuk kita pahami."

Jusuf Kalla kemudian menuturkan dewan masjid seusai mendengar studi survei yang mengatakan 41 masjid terpapar radikalisme, dewan masjid tidak begitu menanggapi secara serius dalam rapat besar.

Namun akan tetap memeriksa dan memfollow up hasil temuan tersebut.

Proses studi menurut Ketua DP Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat

Sebelumnya, Agus Muhammad, selaku Ketua DP Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat menjelaskan proses studi sehingga menghasilkan data 41 dari 100 masjid pemerintah di Jakarta, terpapar radikalisme.

Kriteria objek yakni yang pertama berada di Jakarta, kemudian Masjid bukan mushola, yang ketiga ada kegiatan tambahan di luar sholat berjamaah.

Agus menuturkan dalam menstudikan 100 masjid, relawan sebanyak 100 diturunkan untuk merekam 4 kali khotbah Jum'at berturut turut dalam satu bulan.

Dalam menentukan relawan, Agus mengatakan pihaknya menentukan dengan rekomendasi dari orang-orang terpercaya.

"Tugas relawan, merekam khotbah jumat, yang kedua merekam videonya, untuk memastikan suara di audio dan videonya sama, dan yang ketiga adalah mengambil bahan gambar bacaan yang ada disana," ujar Agus.

"Nah hasil rekaman di analisis oleh 5 orang yang mempelajari"

Kemudian dalam menganalisis, Agus menuturkan ada 5 hal kriteria menentukan masjid teridentifikasi radikal atau tidak.

"Pertama adalah sikap terhadap konstitusi nasional, NKRI, Pancasila, UUD 45, kemudian Bhineka Tunggal Ika."

"Kedua, sikap terhadap pemimpin non muslim, karena kita sebagai negara yangs udah menyepakati, maka semua orang punya hak yang sama untuk menjadi pemimpin."

"Kita ingin tahu sikap mereka terhadap agama yang lain, Yang keempat, kita ingin tahu sikap mereka terhadap kelompok minoritas, suku, adat, ya secara umum jumlah itu sangat minoritas."

"Yang terkahir sikap mereka terhadap pemimpin perempuan seperti apa. Nah jika sikap mereka negatif, kita menganggap mereka sebagai radikal. Kalau semakin negatif sikapnya kita melihat itu semakin tinggi."

Ada tiga level dalam menganalisis tingkat radikal yang dijelaskan Agus, yakni misalkan dalam pemimpin non muslim.

"Kalau level radikal rendah, sikap mereka tidak ikhlas non muslim menjadi pemimpin. Menurut saya ada potensi menjadi radikal"

"Level sedang, dia sudah setuju untuk tidak boleh sama sekali (non muslim menjadi pemimpin). Untuk yang radikal tinggi, itu sudah memprovokasi," tutur Agus. (TribunJateng.com/Woro Seto)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved