Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kinerja Industri Asuransi Jiwa Per Oktober 2018 Merugi Rp 2,8 Triliun

Tahun lalu bisa dibilang bukan tahun hoki bagi perusahaan asuransi jiwa. Hal itu menyusul minimnya perolehan premi dan lemahnya investasi.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Warga menujukkan uang NKRI pecahan baru sesuai antre penukaran di mobile konter Bank Indonesia di Blok M, Jakarta Selatan, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia (BI) hari ini meluncurkan 11 uang rupiah Emisi 2016 dengan gambar pahlawan baru. Peluncuran uang rupiah baru ini dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Tahun lalu bisa dibilang bukan tahun hoki bagi perusahaan asuransi jiwa. Hal itu menyusul minimnya perolehan premi dan lemahnya investasi.
Dari sisi kinerja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Oktober 2018 industri asuransi jiwa mengalami kerugian Rp 2,8 triliun. Angka itu berbanding terbalik dengan periode sama 2017 yang mencatat laba bersih Rp 7,06 triliun.

Kerugian industri asuransi jiwa itu karena pendapatan premi sampai Oktober 2018 hanya tumbuh 3,67 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan pendapatan premi pada periode sama tahun sebelumnya masih sebesar 37,92 persen yoy.

Kerugian industri asuransi jiwa itu karena hasil investasi yang minus Rp 6,9 triliun sampai Oktober 2018. Hal itu juga berbanding terbalik dengan periode sama tahun sebelumnya yang masih mencatat hasil investasi Rp 32,5 triliun.

Saat ini, mayoritas investasi asuransi jiwa di reksadana sebesar 36 persen, disusul saham sebesar 29 persen dari total investasi.

Meski kinerja asuransi jiwa secara industri tahun lalu kurang bagus, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkirakan kinerja tahun ini membaik.

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI mengatakan, dengan menggunakan data kuartal I/2018-kuartal III/2018, diperkirakan premi asuransi jiwa tahun ini naik 13 persen yoy menjadi Rp 239,87 triliun.

"Hasil investasi diperkirakan naik 13 persen yoy, dan cadangan teknis akan naik 15 persen," katanya, kepada Kontan, Kamis (10/1).

Optimalkan distribusi

Handojo G Kusuma, Presiden Ditrektur AXA Mandiri menargetkan, pendapatan premi perseroan hingga akhir 2019 diyakini bisa mengalami kenaikan dua digit. "Caranya, dengan mengoptimalkan tiga jalur distribusi yang ada," ujarnya.

Tiga jalur distribusi itu adalah in branch, telemarketing, dan korporasi. Selain itu, AXA Mandiri juga akan memanfaatkan kanal digital, terutama untuk sosialisasi, edukasi, dan proses klaim asuransi.

"Selain itu, AXA Mandiri akan mengoptimalkan cross selling terutama untuk produk ritel," jelas Handojo.
Senada, Aldi Rinaldi, Direktur MNC Life juga menargetkan pertumbuhan premi sebesar 20 persen secara yoy.

"Hal ini seiring dengan optimalisasi proses digital," tuturnya.

Menurut dia, target kenaikan pertumbuhan premi itu berasal dari 40 persen bancassurance, 40 persen keagenan, dan sisanya sebesar 20 persen berasal dari produk digital.

Direktur Capital Life Indonesia, Robin Winata memproyeksi, pendapatan premi perseroan pada 2019 mencapai Rp 9,9 triliun. "Proyeksi hasil investasi di kisaran Rp 10 triliun–Rp 11,5 triliun," urainya.

Pada tahun ini, Capital Life akan menambah mitra strategis bancassurance bank dan lembaga keuangan. Selain itu, perseroan juga akan menambah produk asuransi jiwa dan strategi investasi moderat. (Kontan/Galvan Yudistira)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved