12 Tahun Terbentuk, Group Qosidah El Shida Semarang Pentas Hingga ke Mancanegara
Perkumpulan mayoritas perempuan gemar alat musik dan bernyayi lagu islami tersebut sudah ada sejak 12 tahun yang lalu.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: suharno
"Ditunggu saja rilisnya, semoga tembang-tembangnya bisa diterima masyarakat," jelas Muthoharoh.
Di tambahakan sang perintis El Shida tersebut, selama 12 jalan pihaknya menghibur masyarakat, grup yang kini sudah menjadi perhatian mutlak dirinya sudah mengalami banyak perkembangan.
Di antara perkembangan yang ada, dapat dilihat dari alat musik yang digunakan semakin lengkap.
Berawal menggunakan orjen dan kendang saja, kini lantunan tembang El Shida tampil ciamik diiringi alunan seruling dan gitar.
Pun personilnya bertambah menjadi 10 orang dengan di antaranya melibatkan cucu dari sang pemimpin.
Dalam sekali pentas, El Shida biasa menghibur masyarakat selama kurang lebih 3 jam.
Pihaknya tidak hanya membawakan tembang yang sudah dipersiapkan, tetapi juga menampilkan lagu-lagu berdasarkan request-an masyarakat yang hadir.
"Kami ada lagu Dendang El Shida, Pesantrenku, Doa Seorang Ibu, dan ini merupakan salah satu yang hits di kalangan masyarakat. Beberapa lainnya merupakan permintaan pengunjung yang hadir," terang Muthoharoh.
Berada pada puncak kejayaan dalam kurun 3 tahun terakhir, El Shida lebih sering tampil di daerah pantura sepanjang Jawa Timur hingga Jawa Barat.
Beberapa daerah lain juga tak luput disentuh oleh tembang El Shida.
Meski begitu, beberapa daerah di Indonesia ada yang belum pernah pihaknya datangi.
Sebut saja Kalimantan, Papua, dan Sumatera.
"Kami berharap El Shida tetap jaya, langgeng, dan bisa meneruskan kesenian islami. Tentunya dengan tembang-tembang yang bisa diterima masyarakat banyak," pungkas Muthoharoh. (sam)