HATI-HATI! Konsumsi Minuman Instan Picu Gagal Ginjal, Ini Penjelasannya
Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Fungsi ginjal menyaring darah sebelum mengirimnya kembali ke jantung
Sedangkan untuk tranplantasi ginjal harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, donatur ginjal juga harus berasal dari saudara atau keturunan sedarah. "Kalau sudah parah, pasien bisa melakukan cuci darah seminggu dua kali atau sekali, tergantung kondisi. Untuk tranplantasi itu sangat mahal," ucapnya.
Penderita gagal ginjal dan menjalani terapi atau pengobatan biasanya tidak bertahan lama, hanya beberapa tahun. "Ini bukan menakut-nakuti. Lebih baik memang mencegah penyakit tidak menular itu. Masyarakat yang banyak uang, tidak asal membeli minuman olahan atau instan seenaknya, mending air putih dan jahe gepuk," ujarnya.
Pemerintah Provinsi sendiri telah melakukan sosialisasi agar masyarakat sadar bahaya penyakit ginjal yang mengintip setiap saat. Strategi dalam pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular yakni pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat.
Slogan CERDIK pun digaungkan pemprov kepada masyarakat yang berpotensi terkena penyakit ginjal. CERDIK merupakan kepanjangan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin berolahraga, diet sehat, istirahat cukup, dan kelola stres. Ini untuk mendorong warga agar mandiri dalam penerapan gaya hidup sehat melalui berbagai cara strategis. (tim)
Nancy Akui Ibunya Takut Operasi
MATA Nancy Dian Puspita berkaca-kaca saat mengingat bagaimana perjuangan ibunya yang dulu ingin berusaha sembuh dari penyakit ginjal. Menurut Nancy, jangankan sembuh, untuk bisa bertahan hidup saja butuh perjuangan yang tidak mudah. Setiap dua kali seminggu harus rutin pergi ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah.
Biasanya proses cuci darah berlangsung selama tiga sampai empat jam. Di daerah tempat tinggalnya Demak tidak ada rumah sakit yang menyediakan fasilitas tersebut sehingga harus pergi ke Semarang menempuh perjalanan panjang.
Nancy tidak mengetahui seperti apa efek yang dirasakan jika terlambat atau tidak melakukan cuci darah. Sebab sejauh ini ibunya tertib melakukan cuci darah sesuai jadwal, yaitu seminggu dua kali.
Ia bercerita dulu sekali, ketika Nancy duduk di bangku sekolah dasar, ibunya pernah mengalami penyakit batu ginjal. Barulah sekitar 10 tahun kemudian divonis gagal ginjal oleh dokter.
“Ibu saya dulu orang yang jarang minum. Apalagi air putih, paling teh segelas kalau pagi. Mungkin karena itu jadinya ginjalnya sakit,” ujarnya.
Sebelum didiagnosis mengalami gagal ginjal, Ibunya sering mengeluh sakit pada pinggang belakang. Selain itu, tubuhnya terlihat membengkak lalu tak sadarkan diri. “Sempat koma dua hari, kejadian itu tepat usai perayaan pesta ulang tahun kakak saya. Jadi saya masih ingat. Ketika diperiksa sejak saat itulah ketahuan kalau ibu saya kena penyakit ginjal ditambah hepatitis,” kata Nancy.
Ketika tersadar ibunya kaget melihat bagian dada telah “bolong” dan terpasang alat untuk proses cuci darah. Sejak saat itu harus rutin melakukan cuci darah selama dua kali dalam seminggu.
Menurut Nancy, ibunya merupakan orang yang takut dengan segala hal yang berkaitan dengan rumah sakit. Setiap kali cuci darah, selalu ngedrop karena merasa takut. Kondisi mental seperti itu turut berpengaruh terhadap jalannya proses penyembuhan.
Terkait biaya, dua kali cuci darah dalam seminggu dicover oleh BPJS. Namun jika lebih dari itu maka sisanya harus ditanggung sendiri. Sepengetahuannya setiap kali cuci darah paling tidak membutuhkan biaya Rp1,5 juta. “Paling cuma biaya perawatan dan transportasi yang harus ditanggung sendiri. Tapi kalau dihitung-hitung juga lumayan, satu sampai dua jutaan rupiah ada per bulannya,” kata Nancy.
Sejak divonis gagal ginjal dan menjalani cuci darah rutin, ibunya hanya mampu bertahan tak lebih dari satu tahun. Ketika koma yang kedua kalinya ia tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia.
Ketika sakit, pernah ada niatan Nancy untuk melakukan donor ginjal. Ia meyakini cara tersebutlah yang paling ampuh untuk proses penyembuhan. Namun oleh ibunya niatan tersebut dilarang. “Ibu saya gak mau, katanya saya masih muda nggak mau melihat anaknya hidup dengan satu ginjal. Selain itu ibu saya juga takut operasi,” ujarnya.
Menurut Nancy bagi yang mengalami penyakit ginjal kronis terpenting adalah motivasi untuk tetap hidup. Memerangi rasa malas untuk pergi ke rumah sakit melakukan cuci darah. Sehingga dibutuhkan dukungan suport dari orang terdekat seperti keluarga. “Karena ada yang sejak tujuh tahun sampai sekarang rutin cuci darah. Dia semangat walau harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit,” ujarnya. (tim)