Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PELUANG BISNIS: Potensi Pasar Gaming Lewat Bisnis Online

Pemuda 21 tahun itu mampu meraih omzet hingga Rp 200 juta tiap bulan hanya dengan menjadi reseller. Ia bahkan tidak punya toko

TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM -- Pada era disrupsi teknologi, berwirausaha bisa dimulai oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Hal itu yang kemudian dipahami benar oleh Valentino Is Hapsoro Wrehadnolo.

Pemuda 21 tahun itu mampu meraih omzet hingga Rp 200 juta tiap bulan hanya dengan menjadi reseller. Ia bahkan tidak punya toko, hanya gudang dan empat karyawan yang juga tak berkantor.

Penasaran bagaimana pemuda yang masih berstatus mahasiswa ini mengelola usaha? Berikut wawancata wartawan Tribun Jateng, bersamanya baru-baru ini.

Tidak punya toko, karyawan juga tidak berkantor, lalu apa sebenarnya yang kamu jual?

Kalau orang bilang saya ini reseller, atau dropshiper. Tapi barang yang saya jual memang nilainya lumayan mahal. Perangkat-perangkat gaming. Seperti head set game, keyboard game, dan peranti lainnya.
Ada beberapa item yang memang saya stok, namun yang harganya masih di bawah Rp 1 juta. Makanya saya tetap butuh gudang. Namun, yang harganya di atas itu, saya hanya menjualkan milik orang. Distributor resmi nantinya yang langsung mengirim ke alamat tujuan dengan nama toko online saya.

Bagaimana awalnya kemudian bisa menggeluti bisnis seperti itu?

Saya sejak SD memang suka ngegame. Dulu game online di warnet, sampai jadi anak warnet. Sekarang masih suka juga sih. Sempat ikut beberapa kali kompetisi game, namun tidak terus menjadi yang terbaik juga.
Semua berubah saat keluarga, Ayah dan Ibu ada kendala ekonomi. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas X sekolah menengah atas. Semangat awalnya adalah membantu meringankan beban orangtua.

Awalnya saya jual CD bajakan isinya game. Saya download aplikasi game di internet, saya burning ke CD dan saya jual. Laku juga, kebetulan memang teman-teman saya juga gamer.

Dari situ, ada teman yang minta dijualkan perangkat gamenya bekas. Saya jualkan juga laku. Lalu saya berpikir kenapa nggak jual barang baru? Lalu saya mulai mencari beberapa distributor resmi dan memasarkannya di akun media sosial.

Ternyata responnya cukup bagus hingga sekarang akun instagram toko online saya diikuti lebih dari 55 ribu akun. Lalu saya coba merambah juga aplikasi toko online yang ada di Indonesia. Nama tokonya Fraggaming.

Lalu bagaimana kamu mengembangkan bisnismu agar tetap mendapat tempat di hati para pelanggan?

Saat ini orang bisa melihat semuanya di dunia maya. Ada media sosial, website, toko online, semua saya terjuni untuk menjangkau semakin banyak pembeli. Saya buat website fraggaming.com, kemudian saya ubah ke fraggaming.pro agar lebih mewakili sebagai website gamer profesional.

Semakin banyak yang harus saya kerjakan, maka saya butuh bantuan. Lalu saya mengajak beberapa rekanan untuk membantu. Ada yang kerjaannya mendesain produk agar lebih menarik saat diposting. Ada yang mengelola website, hingga ada yang kerjaannya membuat artikel.

Mereka semua ada di luar kota, saya tidak punya kantor dan kita bahkan hampir tidak pernah bertemu langsung. Koordinasi semua melalui teknologi yang ada saat ini.

Saya juga punya pandangan, ke depan website saya ini tidak hanya berisi barang yang dijual saja. Tapi ada berita seputar gaming, tokoh-tokoh gamer terkenal dengan kehidupan sehari-harinya, hingga dirilisnya game baru.
Saya ingin nantinya para pengikut yang banyak ini tidak hanya mendapat konten iklan. Namun juga artikel yang menambah pengetahuan gamingnya atau sekadar bisa untuk intermezzo.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved