Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PELUANG BISNIS: Potensi Pasar Gaming Lewat Bisnis Online

Pemuda 21 tahun itu mampu meraih omzet hingga Rp 200 juta tiap bulan hanya dengan menjadi reseller. Ia bahkan tidak punya toko

TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
Ilustrasi 

Artikel ini sudah beberapa kali berjalan tidak panjang memang dan saya pajang juga di Instagram. Respons para pengikut cukup bagus, interaksi justru tampak lebih banyak di postingan artikel.

Jarang bertemu dengan rekan kerja, tidak pernah berjumpa langsung dengan pembeli, apa bisnis seperti ini tidak rawan penipuan?

Setiap usaha pasti ada risikonya. Begitu juga dengan apa yang saya lakukan saat ini. Penipuan pernah saya alami beberapa kali dari berbagai modus. Dan itu kini memberi saya pelajaran bahwa memang harus hati-hati dalam bertransaksi.

Kini, saya lebih paham bagaimana ciri-ciri orang yang ingin menipu, atau berniat tidak benar-benar membeli.
Saya pernah punya pengalaman ditipu oleh pelanggan. Bahkan dia bukan pembeli baru. Pernah beberapa kali bertransaksi dan lancar.

Hingga suatu saat dia membeli produk dan langsung saya layani. Dia mengirimkan struk transfer, lalu barang dikirim dan sampai ke rumahnya. Namun, ternyata saat saya cek tidak ada uang terkirim ke rekening saya.
Ternyata struk yang dikirimkan ke saya saat itu palsu. Saya tagih ke orangnya, saya langsung diblok. Untung saat itu transaksinya hanya sekitar ratusan ribu rupiah.

Dari pengalaman itu saya kini lebih teliti dan cermat lagi sebelum mengirim barang ke konsumen.

E-commerce sangat bergantung pada jasa pengiriman logistik. Beberapa waktu lalu sempat ada permasalahan dengan kargo udara. Bagaimana dampaknya dengan bisnis anda, dan apa langkah untuk menanggulangi hal serupa?

Benar sekali memang kami sangat bergantung dengan jasa pengiriman logistik. Kemarin saat ada permasalahan dengan kargo udara itu sangat berpengaruh. Barang kiriman terlambat datang, komplain berdatangan.

Pertama saya sangat menghormati pelanggan. Ketika ada komplain, jawaban yang saya berikan harus saya kroscek kembali kata-kata hingga kalimatnya. Bisnis ini berjalan dengan kepercayaan, salah menjawab komplain yang datang melalui Whatsapp atau aplikasi lainnya bisa jadi kiamat.

Kedua, saya cek ke jasa pengirimannya apakah benar terjadi kendala. Ketiga saya memilah dan memilih jasa pengiriman. Dari sekian banyak yang ada di Semarang, saya sudah punya satu yang paling saya anggap profesional.

Di sana saya berlangganan, sehingga koordinasi saat ada kendala pengiriman bisa berjalan baik dan saling percaya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved