Begini Kondisi Industri Bulu Mata Palsu di Purbalingga Saat Ini, Dampak Persaingan Global

Industri bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga, kondisinya saat ini makin mengkhawatirkan.

Begini Kondisi Industri Bulu Mata Palsu di Purbalingga Saat Ini, Dampak Persaingan Global
HUMAS PEMKAB PURBALINGGA
Aktivitas pengrajin bulu mata di Industri Kecil Menengah (IKM) PT Bilqis Eyelashes di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Selasa (9/5/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Industri bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga, kondisinya saat ini makin mengkhawatirkan.

Menurut Kabid Perindustrian Dinperindag Kabupaten Purbalingga Agus Purbadi Satya, penyebabnya karena adanya persaingan global.

Gempuran pasar global terutama dari China yang memproduksi barang sama begitu masif.

Masalahnya, peredaran produk buatan China itu juga dibarengi peningkatan kualitas yang semakin baik.

Selain itu, jumlah ekspor juga selalu meningkat karena proses produksi sudah menggunakan mesin.

"Mereka produknya terus meningkat. Baik dari segi jumlah maupun kualitas. Padahal mereka pakainya mesin, sehingga pula bisa memodifikasi hasil produksi," kata Agus.

Tren peningkatan kualitas produk dari kompetitor ini menurut Agus sudah terjadi dua tahun terakhir ini.

Mau tidak mau, para pelaku industri bulu mata di Purbalingga harus meningkatkan kualitas produknya.

Dengan demikian, produk bulu mata Purbalingga tetap berani bersaing di pasaran.

Sehingga tidak akan ada pengurangan jumlah karyawan karena permintaan berkurang.

“Dari segi kualitas sebenarnya tidak kalah. Tapi di dua tahun terakhir ini kompetitor, kualitasnya mendekati produk lokal. Karenanya perlu digenjot terus kualitasnya,” imbuhnya.

Dinperindag Purbalingga berencana bakal berdiskusi dengan pengusaha bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga untuk mencari solusi terbaik dari masalah tersebut.

Dia pun meminta berbagai pihak tidak panik dan khawatir atas dinamika industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga saat ini.

Industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga disebut terbesar di dunia setelah Guangzo China.

Industri ini mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja yang didominasi perempuan. (Khoirul Muzakki)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved