OPINI Woro Seto: Gerakan Indonesia Tanpa Feminis, Maaf Kalian Kaum Pesimis
Gerakan ‘Indonesia Tanpa Feminis’ yang tidak mengedukasi justru menyebar doktrin pesimis dan tekesan pasrah.
Ketika admin @Indonesiatanpafeminis menulis bahwa perempuan dijaga oleh ayahnya, dijaga saudara laki-lakinya dan di jaga suaminya, hamok sering-sering baca berita.
Aku beri contoh ya. Kisah perempuan berinsial AG misalnya, gadis berusia 18 tahun menjadi korban pemerkosaan dari ayah, kakak, dan adik kandungnya sendiri sejak satu tahun terakhir. Kejadian tersebut terjadi di Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.Ia diperkosa selama satu tahun oleh ayahnya JM (44), kakak SA (23) dan adiknya TG (15) secara bergiliran. Berdasarkan hasil pemeriksaan, JM mengaku lima kali mencabuli AG, kemudian SA sebanyak 120 kali, dan YG mengaku 40 kali. Diketahui AG, tinggal dengan sang nenek, lantaran ibu kandungnya meninggal dunia, lalu dijemput oleh ayahnya untuk tinggal bersamanya pada awal 2018 lalu.17 hari pasca tinggal bersama sang ayah, terungkap bahwa AG kerap dijadikan pemuas nafsu bagi saudara dan ayah kandungnya itu.Cerita yang paling tragis, korban mengatakan dirinya bahkan pernah diperkosa hingga lima kali dalam satu hari. Korban kembali mengungkapkan dirinya juga tak diberi makan oleh keluarganya.Meskipun, ia mendapat tugas untuk memasak, namun korban terkadang tidak mendapatkan makan. Itu baru kisah AG lho, masih banyak kasus yang lain yang bikin ngelus dada.
Lantas, kemuliaan perempuan yang seperti apa yang diinginkan pegiat @Indonesiatanpafemis jika tanpa usaha dan hanya terkesan pasrah saja? Sekali lagi ukh, banyak kehidupan ‘keras’ yang harus dialami perempuan. Misalnya kasus perempuan yang harus bekerja menghidupi keluarganya, kasus perempuan yang dipaksa nikah dini, kasus perempuan tak bisa bersekolah dan kasus-kasus lainnya.
Terakhir saya mau tanya dengan pertanyaan serius, kenapa pegiat @indonesiatanpafeminis kok alergi sekali dengan feminisme? Apa gara-gara kata feminis diambil dari bahasa latin bukan bahasa arab? kalau begitu istilah femisme diubah aja dengan bahasa arab ‘alharakah nissaiyah’ biar keliatan lebih religius dan tidak mengubah subtansi gerakan feminisme itu sendiri. Bereskan?
Coba deh, pegiat @indonesiatanpafeminis lebih banyak piknik dan membaca berita, banyak lho kasus-kasus diskriminasi yang dialami perempuan. Misalnya, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dia bekerja 24 jam di rumah majikan, tidak diatur waktu istirahat, tidak diatur jam bekerja, tidak memiliki pekerjaan yang jelas bahkan disuruh ini -itu tanpa dilindung Undang-undang ketenagakerjaan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) upah buruh perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Rata-rata upah buruh pria di 2018 sebesar Rp 3,6 juta sementara wanita Rp 2,4 juta. Hal-hal begini harus diperjuangkan. Kenapa? karena perempuan seharusnya bisa menerima upah seperti laki-laki, lha wong sama-sama bekerja. Perempuan yang digaji rendah itu terpaksa karena tidak ada pilihan lain.
Mungkin pegiat @Indonesiatanpafeminis tidak pernah merasakan susahnya mencari kerja, susahnya mencari uang, bisa beli-beli makan enak dan fashion terbaru, tapi mbok ya mikirin kondisi perempuan yang lain yang tidak seberuntung kalian.
Ayolah, kita sama-sama berjuang untuk kehidupan perempuan yang lebih baik, biar sama-sama hidup bahagia, sejahtera, dan syukur-syukur bisa masuk surga bersama. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wa-woro-seto.jpg)