Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Undip Gelar Tribute to Prof Agus Maladi Persembahan Sang Guru, Mengenang Almarhum Prof Agus Maladi

Tribute to Prof Agus Maladi, Persembahan Sang Guru di Gedung Serba Guna FIB Undip Tembalang

Penulis: rustam aji | Editor: galih permadi
ISTIMEWA
Undip Gelar Tribute to Prof Agus Maladi Persembahan Sang Guru, Mengenang Almarhum Prof Agus Maladi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Untuk mengenang jasa-jasa almarhum Profesor Agus Maladi Iriyanto, dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip, digelar Tribute to Prof Agus Maladi, Persembahan Sang Guru di Gedung Serba Guna FIB Undip Tembalang, Sabtu malam (20/4/2019).

Mahasiswa, alumni, dan dosen memberikan penghormatan kepada Guru Besar yang meninggal dunia 15 Maret 2019 lalu, Prof. Dr Agus Maladi Irianto MA.

Acara diawali dengan baca puisi oleh Basa Basuki, alumnus yang juga salah satu murid Agus Maladi. Penyair dan alumni Fakultas Sastra (sebelum berganti nama FIB) angkatan 86 itu, tampil memukau dan penuh semangat seperti layaknya aktivis kampus.

Beberapa puisi karya seniman gondrong diantaranya yang cukup terkenal berjudul “Sajak Elang” ini dibacakan, kemudian ditambah kesakasian tentang sang Guru, Prof Maladi.

Ketua Umum IKA FIB Undip Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan, Prof AMI adalah sosok teladan.

Para mahasiswa diminta belajar tentang almarhum.

“Buka file tentang beliau, pelajari apa yang dikerjakannya, cermati karya-karyanya. Banyak yang bisa kita contoh dari beliau,” kata anggota DPR RI ini.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan kesaksian atau testimoni dari beberapa junior almarhum seperti Aridho dan Mujid, keduanya dosen FIB Undip.

Aridho, misalnya, ketika dia ditantang untuk pimpinan SEU (Service English Unit) sebuah lembaga di bawah kampus FIB. “Saya menjawab siap,” katanya.

Hal yang juga diingat dari almarhm adalan pesan agar Aridho tidak mengubah penampilan. “Jangan takut dianggap berbeda, pertahankan yang menjadi ciri Anda,” pesan AMI kala itu.

Dan, itu tetap diingat sampai sekarang, Aridho pun mempertahankan penampilannya dengan selalu mengenakan blangkon dalam kesempatan apapun.

Seorang sahabat Prof AMI sejak SMA, Widiyartono R juga memberikan kesaksiannya sebagai teman yang sudah sejak tahun 1978 mengenalnya.

“Saya sudah berteman dengannya sejak SMA, lalu masuk Fakultas Sastra, bekerja bersama-sama menjadi wartawan di media yang sama. Maka, ketika beliau meninggal, saya tidak kuasa menahan tangis. Bahkan ketika ayah, ibu, dan adik saya meninggal pun saya tidak menangis,” katanya.

Dikenangnya juga, meskipun sama-sama seangkatan dan bareng-bareng kerja, AMI banyak memberikan bimbingan, khususnya dalam bidang tulis-menulis.

Tentang pemilihan diksi yang mampu menjadikan sebuah kata menjadi “berdarah”, sehingga pembaca atau pendengar merasakan bahwa kata yang disebut menjadi lebih “berdaya”.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved