Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

Fokus ; Keangkeran Wanamarta

KOCAP kacarita, Duryudana dan 99 saudaranya kaget bukan kepalang, ketika mendapati ternyata Pandawa masih hidup.

Tayang:
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/dokumen
Achiar M Permana 

Sebelumnya, di hadapan para kepala lembaga tinggi negara saat acara buka puasa bersama di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/5/2019), Jokowi kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak main-main terkait rencana pemindahan ibu kota negara.

"Kita serius dalam hal ini karena sejak tiga tahun yang lalu sebetulnya ini telah kita bahas internal. Kemudian 1,5 tahun yang lalu kami minta Bappenas untuk melakukan kajian-kajian yang lebih detail baik dari sisi ekonomi, sosial-politik, dan juga dari sisi lingkungan," ujar Jokowi.

Sejatinya, pemindahan ibukota negara, sama sekali bukan barang baru. Pada tahun 1957, 62 tahun silam (!), ketika meresmikan Kota Palangkaraya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Bung Karno telah menyatakan keinginan untuk menjadikan kota di tepi Sungai Kahayan itu sebagai ibukota negara. Yang baru.

Di dunia, tak kurang dari 30 negara yang memindahkan ibu kotanya dan, nyatanya, sukses. Brasil, satu di antaranya. Brasil memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia, pada 1960. Negeri Tirai Besi, Rusia, juga telah memindahkan ibu kota ke Moskow, pada 1918, dari sebelumnya St Petersburg, yang menjadi ibu kota negeri itu selama 200 tahun lebih.

Di Asia Tenggara, Malaysia telah terlebih dahulu memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, pada 1999. Myanmar menyusul enam tahun kemudian, pada 2005, memindahkan ibukota dari Yangoon ke Naypyidaw.

"Tapi, Kang, kalau ibukotane pindah seka Jakarta, apa meneh ke luar Jawa, mudike dadi repot lo. Adoh!" Dawir nyeletuk lagi. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved