Langgar Bubrah di Demangan Kudus, Bukti Transisi Hindu ke Islam
Langgar, atau musala. Lantas kata bubrah memiliki arti rusak atau berantakan. Jika digabung, Langgar Bubrah merupakan surau yang rusak atau berantakan
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Langgar Bubrah, sebutan itu sudah sangat familiar bagi masyarakat Kudus. Aneh memang.
Namun bangunan tak utuh yang terletak di RT 2 RW 4 Desa Demangan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus menyimpan cerita sejak ribuan tahun lalu.
Langgar, masyarakat Kudus biasa menyematkan kata itu untuk surau atau musala. Lantas kata bubrah memiliki arti rusak atau berantakan. Jika digabung, Langgar Bubrah merupakan surau yang rusak atau berantakan.
Letaknya yang berada di tengah pemukiman padat, membuat Langgar Bubrah sangat kontras dan mudah ditemukan sebab bangunan di sekitarnya terlihat lebih modern. Sedangkan Langgar Bubrah hanya seperti tumpukan bata.
Untuk menuju ke Langgar Bubrah tidaklah sulit. Dari Jalan Sunan Kudus ke selatan melewati gang yang ada di seberang Taman Menara. Sekitar 200 meter, di sebelah kiri jalan terdapat tumpukan bata berikut petunjuk berupa tulisan, bahwa tumpukan bata itu dilindungi negara karena telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Sedianya, langgar itu hanya sekadar tumpukan bata. Pada dinding bata terukir layaknya ornamen yang indah khas kejayanaan Majapahit.
Di beberapa sisi, juga terdapat tanah sebagai perekat antara satu bata dengan bata lainnya. Sementara di depan terdapat dua batu besar yang konon disebut sebagai lingga dan yoni.
“Langgar ini ya hanya tumpukan bata itu saja. Atapnya tambahan agar adem saja. Pada 2005 setelah ditinjau pemerintah, akhirnya tumpukan bata diberi atap untuk melindungi dari terik dan hujan,” tutur pria yang bertindak sebagai juru pelihara langgar saat ditemui di lokasi, Selasa (7/5/2019).
Menurut pria berambut panjang yang mengaku bernama Parijoto itu lantas menceritakan asal usul langgar. Menurutnya, Langgar Bubrah sudah ada sejak sebelum ada Menara Kudus.
Langgar itu sedianya merupakan tempat ibadah umat Hindu yang dibangun pada abad ke-15. Adapun pendirinya yaitu Pangeran Ponjtowati yang masih berdarah Majapahit.
“Pangeran Pontjowati di Kudus kala itu sangat dikagumi oleh masyarakat. Dia juga sebagai adipati,” kata Parijoto.
Semenjak datangnya Sunan Kudus, katanya, haluan masyarakat untuk memeluk agama berubah. Termasuk Pangeran Pontjowati pun ikut masuk Ilsam dari yang semula Hindu. Kala itu, kedatangan Jakfar Sadiq, nama asli Sunan Kudus, rupanya atas perintah Raden Patah Raja Demak.
“Siapa Raden Patah? Dia kan masih keturunan darah biru Majapahit, begitu juga dengan Pangeran Pontjowati. Jadi keduanya ada ikatan saudara,” katanya.
Kedatangan Sunan Kudus membawa komitmen dalam menyebarkan agama menggunakan cara damai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seorang-pengunjung-mengabadikan-ornamen-ukiran-dinding-langgar-bubrah-yang-terletak-di-desa-demangan.jpg)