Langgar Bubrah di Demangan Kudus, Bukti Transisi Hindu ke Islam
Langgar, atau musala. Lantas kata bubrah memiliki arti rusak atau berantakan. Jika digabung, Langgar Bubrah merupakan surau yang rusak atau berantakan
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Termasuk tidak menyembelih sapi sebagai penghormatan kepada masyarakat Hindu yang memuliakan sapi.
Hal itu rupanya semakin mendekatkan antara Pontjowati dan Sunan Kudus. Akhirnya, Pontjowati dinikahkan dengan anak Sunan Kudus yang bernama Dewi Probodinabar.
Lantas selepas itu bagaimana kondisi Langgar Bubrah? Apakah ditinggalkan begitu saja? Konon, Langgar Bubrah setelah masuknya Islam di Kudus berubah menjadi tempat pertemuan para wali.
Bangunan yang memiliki panjang 6,3 meter lebar 6 meter dan tinggi 2,75 meter itu juga terdapat versi lain yang melatarbelakangi penamaannya.
Konon pada saat proses pembangunannya hanya membutuhkan waktu semalam.
Namun karena terdapat seorang janda yang mengetahuinya, atau kamanungsan pada saat menjelang subuh, akhirnya disabda menjadi sebuah patung.
Sementara langgar pun belum sampai selesai yang kemudian dinamakan bubrah.
“Terlepas dari semua itu, Langgar Bubrah harus tetap dirawat. Ini sebagai bukti sejarah dan budaya kita,” tutur pria kelahiran 1980-an.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seorang-pengunjung-mengabadikan-ornamen-ukiran-dinding-langgar-bubrah-yang-terletak-di-desa-demangan.jpg)