Breaking News:

Langgar Bubrah di Demangan Kudus, Bukti Transisi Hindu ke Islam

Langgar, atau musala. Lantas kata bubrah memiliki arti rusak atau berantakan. Jika digabung, Langgar Bubrah merupakan surau yang rusak atau berantakan

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Seorang pengunjung mengabadikan ornamen ukiran dinding Langgar Bubrah yang terletak di Desa Demangan, Kecamatan Kota Kudus, Selasa (7/5/2019). 

Langgar itu sedianya merupakan tempat ibadah umat Hindu yang dibangun pada abad ke-15. Adapun pendirinya yaitu Pangeran Ponjtowati yang masih berdarah Majapahit.

“Pangeran Pontjowati di Kudus kala itu sangat dikagumi oleh masyarakat. Dia juga sebagai adipati,” kata Parijoto.

Semenjak datangnya Sunan Kudus, katanya, haluan masyarakat untuk memeluk agama berubah. Termasuk Pangeran Pontjowati pun ikut masuk Ilsam dari yang semula Hindu. Kala itu, kedatangan Jakfar Sadiq, nama asli Sunan Kudus, rupanya atas perintah Raden Patah Raja Demak.

Suasana dalam Langgar Bubrah, di RT 2 RW 4 Desa Demangan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Selasa (7/5/2019).
Suasana dalam Langgar Bubrah, di RT 2 RW 4 Desa Demangan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Selasa (7/5/2019). (Tribun Jateng/ Rifqi Gozali)

“Siapa Raden Patah? Dia kan masih keturunan darah biru Majapahit, begitu juga dengan Pangeran Pontjowati. Jadi keduanya ada ikatan saudara,” katanya.

Kedatangan Sunan Kudus membawa komitmen dalam menyebarkan agama menggunakan cara damai.

Termasuk tidak menyembelih sapi sebagai penghormatan kepada masyarakat Hindu yang memuliakan sapi.

Hal itu rupanya semakin mendekatkan antara Pontjowati dan Sunan Kudus. Akhirnya, Pontjowati dinikahkan dengan anak Sunan Kudus yang bernama Dewi Probodinabar.

Lantas selepas itu bagaimana kondisi Langgar Bubrah? Apakah ditinggalkan begitu saja? Konon, Langgar Bubrah setelah masuknya Islam di Kudus berubah menjadi tempat pertemuan para wali. 

Bangunan yang memiliki panjang 6,3 meter lebar 6 meter dan tinggi 2,75 meter itu juga terdapat versi lain yang melatarbelakangi penamaannya.

Konon pada saat proses pembangunannya hanya membutuhkan waktu semalam.

Namun karena terdapat seorang janda yang mengetahuinya, atau kamanungsan pada saat menjelang subuh, akhirnya disabda menjadi sebuah patung.

Sementara langgar pun belum sampai selesai yang kemudian dinamakan bubrah.

“Terlepas dari semua itu, Langgar Bubrah harus tetap dirawat. Ini sebagai bukti sejarah dan budaya kita,” tutur pria kelahiran 1980-an.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved