Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang Isi Ramadhan dengan Kajian Kitab Karya Kyai Ali Ma'sum

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Walisongo, adakan kegiatan rutin pengajian kitab Hujjah Ahli Sunnah Wal Jamaah, karya Kyai

Penulis: Moch Saifudin | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/MOCH SAIFUDIN
Pengajian Kitab Hujjah Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Masjid Kampus 3 UIN Walisongo. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Walisongo, adakan kegiatan rutin pengajian kitab Hujjah Ahli Sunnah Wal Jamaah, karya Kyai Ali Ma"sum, Yogyakarta.

Agenda tersebut bertujuan mengkaji lebih dalam amaliah warga muslim yang mengikuti ajaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Dalam kitab tersebut dijelaskan, bahwa amaliah tersebut merupakan ibadah furuiyyah (cabang) bukan suatu Ushul (prinsip) dalam Islam.

Tidak semestinya diperdebatkan secara berlebihan, hingga memakan suatu korban.

Karena setiap faham memiliki metode pemahaman dan ijtihad yang berbeda.

Dalam muqodimahnya disebutkan, Kyai Ali Ma"sum merasa gelisah dengan adanya santri secara umum yang tidak tahu landasan amal yang biasa mereka perbuat.

Sampai pada akhirnya, dengan rendah hati Kyai Ali Ma"sum menulis kitab tersebut dengan harapan setiap santri bisa mengetahui landasan hadis maupun ijma" ulama yang dipakai dalam menetapkan sebuah tradisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Seperti halnya bab sholat tarawih.

Ustaz pengkaji dalam kegiatan tersebut, Gigih Firmansyah menjelaskan, amaliah tersebut berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Siti Aisyah dan Ijma" Ulama pada zaman Kholifah Umar Bin Khattab.

Ia menjelaskan, pada halaman 28-30, menurut pendapat yang masyhur, penulis menjelaskan Nabi Muhammad SAW keluar tiga malam pada bulan Ramadhan secara terpisah.

Yaitu tanggal 23, 25, dan 27 Ramadhan.

Adapun Nabi tidak keluar di malam 29 karena welas asih kepada para sahabat.

Nabi khawatir sholat tersebut dianggap wajib oleh para sahabat.

Kemudian, Nabi sholat sunnah di masjid, dan banyak orang mengikuti Nabi pada malam-malam tersebut.

Nabi sholat delapan rakaat di masjid, empat salaman, kemudian menyempurnakannya 20 rakaat sendiri di rumah, lalu para sahabat pun mengikutinya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved