Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pedagang Asongan Yang Jadi Perwira TNI AD Ukir Sejarah di Wall of Fame US Army Command

Semasa kecilnya jadi pedagang asongan hingga akhirnya menjadi perwira TNI AD dialami oleh Mayor Inf Alzaki.

Editor: suharno
FACEBOOK/PUSAT PENERANGAN TNI
Mayor Inf Alzaki (tengah) 

“Sedangkan peraih pedang Tri Sakti Wiratama diberikan kepada lulusan Akmil atau Akademi TNI dengan prestasi terbaik dari tiga aspek diatas, namun hanya pada tingkat terakhir pendidikan,” tambah ayah dari dua orang putri itu.

Pasca lulus dari Akmil, Alzaki tidak pernah lepas mendapatkan prestasi yang terbaik mulai pendidikan kecabangan Infanteri, Komando maupun pendidikan spesialisasi yang diikutinya.

Terkait dengan capaiannya saat mengikuti sekolah di CGSC, Alzaki menerangkan bahwa keinginannya untuk mengikuti program The Master of Military Art and Science (MMAS) dari United States Army University dan Program Master Bussines of Administration (MBA) dari Webster University tidak direkomendasikan oleh dosennya di sana.

“Saya disarankan fokus menyelesaikan CGSC, karena dihadapkan alokasi waktu dan tuntutan hasil akademik di CGSC yang tinggi, tidak banyak siswa dari AS yang mengambil program MMAS bahkan program kuliah di universitas lainnya,” ujarnya.

Namun setelah mendiskusikan dengan keluarganya dan juga mendapatkan dukungan semangat dari senior dan rekannya, Alzaki pun dengan penuh keyakinan mendaftar dan mengikuti seleksi di program MMAS dan MBA.

Selama di AS, Alzaki aktif mengenalkan Indonesia, bersama kedua sahabatnya di beberapa acara seperti circle of knowledge di Park University, dimana dia mendapatkan apresiasi sertiifkat dari People to People Organization (Dispenad).

Perjuangan Siswa SD Ingin Jadi TNI AU

Sebuah kisah inspiratif muncul dari sosok Karim Maullah (10), siswa SD kelas 3. Perjuangan bocah yang sudah tak punya ibu ini patut dicontoh anak-anak Indonesia.

Bagaimana tidak, semangat Karim Maullah menimba ilmu begitu kuat. Bahkan, ia bangun dini hari dan mempersiapkan diri berangkat ke sekolah seorang diri nail KRL commuter line dari Kemayoran ke Depok.

Ibu Karim Maullah meninggal sejak 2018 karena sakit paru-paru, Sementara, ayah Karim Maullah tinggal di Manggarai.

Kini, Karim Maullah tinggal bersama nenek dan kakeknya. Kondisi neneknya yang sering sakit membuatnya ke sekolah dengan jarak jauh dilakukan sendiri. 

Setiap hari, Karim Maullah berangkat ke sekolah pukul 03.00. Karim Maullah menempuh perjalanan jauh dari tempat tinggalnya di Kemayoran, Jakarta Pusat menuju Sekolah Masjid Terminal (Master) Depok, Jawa Barat.

Setiap hari, Karim pergi ke sekolah di Depok menggunakan KRL commuter line. Tak ditemani orangtua, ia berangkat seorang diri.

Beberapa hari ini, cerita Karim Maullah viral di media sosial.

Halaman
1234
Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved