Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pedagang Asongan Yang Jadi Perwira TNI AD Ukir Sejarah di Wall of Fame US Army Command

Semasa kecilnya jadi pedagang asongan hingga akhirnya menjadi perwira TNI AD dialami oleh Mayor Inf Alzaki.

Editor: suharno
FACEBOOK/PUSAT PENERANGAN TNI
Mayor Inf Alzaki (tengah) 

Dalam foto yang beredar, Karim saat itu duduk di bangku KRL dengan seragam sekolahnya dan beralaskan sandal karena ia tak punya sepatu.

Kisah perjuangan Karim Maullah menimba ilmu disampaikan oleh sang neneknya, Diana (61).

Kompas.com (Jaringan TribunJateng.com) bertemu dengan nenek Karim, Diana (61) yang saat itu sedang menjemput cucunya pulang dari Sekolah Master yang terletak di samping Terminal Depok.

Diana menceritakan bagaimana Karim akhirnya berani berangkat sekolah seorang diri dengan menempuh perjalanan jauh.

Ia mengatakan, pada awal masuk sekolah, mulanya Karim diantar jemput olehnya.

“Cuma karena saya sakit pengapuran dan sempat dirawat di rumah sakit akhirnya Karim berangkatnya sendirian,” ucap Diana sambil tersenyum tipis.

Ia mengaku sempat khawatir lantaran membiarkan anak sekecil Karim harus naik KRL sendirian tanpa pengawasan siapa-siapa.

Namun, kekhwatiran tersebut hilang oleh kemauan dan semangat Karim untuk menimba ilmu.

“Karim bilang ke saya, 'Sudah tidak apa-apa, Nek, aku berangkat sendiri, aku berani kok. Nenek sembuh aja ya dulu',” ucap Diana menirukan perkataan Karim sambil meneteskan air mata.

Akhirnya Karim sering berangkat sendiri ke sekolah.

Diana menyempatkan diri menjemput Karim jika kakinya tidak sedang sakit parah, meski saat ini pun ia masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Bangun pukul 03.00 Diana mengatakan, semangat Karim untuk sekolah sangat lah tinggi.

Karim bangun tidur dan mempersiapkan keperluannya sendiri untuk sekolah sejak pukul 03.00 WIB.

“Dia yang bangunin saya Mbak tiap hari kalau mau berangkat, ‘Nek bangun, Nek, aku mau sekolah, aku sudah siap,’ ” kata Diana.

Karim pun berangkat subuh dari Stasiun Kemayoran diantar oleh kakeknya yang bekerja sebagai tukang ojek.

“Kakeknya mah nganter sampai stasiun, nanti dia yang beli tiket sendiri dan jalan sendiri sampai sekolahan,” ucapnya.

Dari Stasiun Kemayoran, Karim menempuh perjalanan 1,5 jam sampai ke Stasiun Depok Baru.

Dari stasiun, ia berjalan kaki sejauh 550 meter atau sekitar 7 menit menuju Sekolah Master.

Sejak kecil, Karim sudah tinggal bersama kakek dan neneknya.

Ibu Karim meninggal tahun 2018 karena sakit paru-paru, Sementara, ayah Karim tinggal di Manggarai.

Menurut Diana, sejak kecil Karim biasa ditinggal pergi oleh orangtuanya karena sibuk dengan urusan masing-masing.

“Jadi seperti tidak ada yang peduli sama Karim, saya kasihan sama ini anak. Tapi sekarang jadi banyak yang sayang sama Karim,” ujar Diana.

Diana bercerita, saat masih bayi, Karim kerap keluar masuk rumah sakit akibat mengalami gizi buruk.

"Dulu Karim ini bayi gizi buruk, badannya kurus banget. Sejak kecil enggak diperhatikan orangtuanya, makanya langsung saya ambil dan urus dia sejak bayi," kata dia.

Awalnya, Diana bersama sang cucu tinggal di daerah Situ Lio, Depok.

Namun, sejak tahun 2016, ia bersama sang cucu pindah ke daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dengan hasil botol-botol bekas yang dipungutnya, Diana bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari.

Setiap pulang sekolah, Karim selalu menyempatkan diri membantu neneknya untuk memunguti botol-botol bekas tersebut.

“Ditambah saya kan lagi sakit, dia yang jalan kadang pulang sekolah ngangkutin botol-botol bekas. Dia tuh tahu banget kalau neneknya lagi sakit, kakinya dipijetin,” ucapnya.

Diana berharap cucunya dapat menjadi orang yang sukses.

Diana mengungkapkan cucunya tersebut bercita-cita menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara ( TNI AU). 

Karim mempunyai impian menjadi tentara karena suka menonton film perang.

“Dia itu suka film perang terus dia selalu bilang ke saya, “Nek, aku nanti mau jadi TNI supaya bisa lindungi Indonesia dan orang banyak',” ucap Diana.

Diana selalu berdoa cucunya dapat menggapai cita-citanya.

“Saya mah hanya bisa berdoa saya bisa sekolahin dia sampai nanti dia jadi tentara biar buktiin ke orang-orang kalau orang kecil juga bisa sukses,” tuturnya.

*Artikel ini telah tayang di tniad.mil.id dengan judul 'Sisi Lain Perjuangan Mayor Inf Alzaki Dari Jualan Asongan Sampai Catatkan Sejarah di AS'

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved