240 Hektar Sawah di Banjarnegara Terdampak Kekeringan

Sekitar 240 hektar sawah petani di daerah itu terdampak kekeringan hingga terancam gagal panen

240 Hektar Sawah di Banjarnegara Terdampak Kekeringan
Tribunjateng.com/Khoirul Muzaki
pemandangan sawah di Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan Banjarnegara 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Dampak kekeringan di Kabupaten Banjarnegara mulai dirasakan petani. Sekitar 240 hektar sawah petani di daerah itu terdampak kekeringan hingga terancam gagal panen.

Sawah itu tersebar di empat kecamatan, meliputi Kecamatan Susukan, Kecamatan Mandiraja, Kecamatan Purwanegara dan Kecamatan Sigaluh.

Seluruh wilayah itu berada di bagian selatan Kabupaten Banjarnegara yang dikenal rawan kekeringan. Selain terganggu pertaniannya, masyarkat daerah bagian selatan Banjarnegara pun kerap mengalami krisis air bersih saat kemarau tiba.

Sawah dengan pola pengairan tadah hujan yang sebagian besar berada di Kecamatan Susukan paling terdampak cuaca kering. Pasalnya, daerah itu hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi tanaman. Sedangkan air menjadi kebutuhan vital tanaman untuk pertumbuhannya.

Padahal, usia tanaman padi rata-rata baru menginjak satu minggu hingga satu bulan. Sementara musim kemarau masih panjang.

"Kalau gagal panen belum, karena usianya juga masih muda. Kemungkinan dikhawatirkan,"kata Kepala Dinas Pertanian Banjarnegara Totok Setya Winarno

Dinas Pertanian pun berusaha mengantisipasi dampak kekeringan terhadap dunia pertanian. Pemerintah siap memfasilitasi petani dengan pompa yang saat ini tersedia di kecamatan atau BPBD. Mesin pompa itu bisa dimanfaatkan untuk menyedot air dan mengalirkannya ke lahan pertanian yang kekeringan.

Dengan demikian, kebutuhan air tanaman akan tetap tercukupi sehingga bisa diandalkan untuk panen. Kendalanya jika tidak ditemukan sumber air di sekitar lahan pertanian warga.

Daerah persawahan yang tidak memiliki sumber air ini khususnya berada di wilayah Kecamatan Susukan. Alhasil, mesin pompa itu menjadi tak berfungsi karena tidak ada air yang bisa disedot.

"Celakanya kalau tidak ada air di sekitarnya,"katanya

Ke depan, pihaknya mendorong petani untuk mengatur kembali pola pengolahan lahan mereka. Sebelum usia padi tua, petani mestinya sudah membuat persemaian agar bisa menanam tepat waktu.

Dengan demikian, setelah padi panen, petani bisa langsung mengolah lahannya dan memulai bercocok tanam karena bibit sudah siap tanam. Tetapi yang terjadi selama ini, kebanyakan petani baru menyemai setelah panen. Padahal masa padi di persemaian cukup lama, hingga 21 hari.

Alhasil, petani harus berbenturan dengan musim kemarau saat usia tanaman masih muda hingga sulit mendapatkan air. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved