Boris Johnson, Mantan Jurnalis Penuh Kontroversi Yang Kini Jadi Perdana Menteri Inggris
Boris Johnson akhirnya memenuhi ambisinya menjadi Perdana Menteri Inggris setelah memenangkan pemilihan Pemimpin Partai Konservatif
Sejak di Oxford, kecemerlangannya sudah terlihat sebagai talenta muda politik Inggris bersama dengan Cameron, mantan Ketua Partai Konservatif William Hague, serta politisi yang baru dikalahkannya Jeremy Hunt.
Dia dikenal sebagai sosok yang populer walau terkesan berantakan.
Pada 1986, dia terpilih sebagai Presiden Persatuan Mahasiswa Oxford.
Dari Jurnalis Menuju Politik
Johnson mengawali karirnya bukan di dunia politik melainkan di ranah jurnalistik.
Harian pertama tempat dia meniti karir adalah The Times.
Kontroversi tidak pernah jauh dari Johnson sejak pekerjaan pertamanya ini.
Dia dipecat setelah ketahuan merekayasa kutipan untuk tulisannya.
Sosok yang gemar bersepeda ini hengkang ke The Daily Telegraph di mana karirnya melesat hingga ditempatkan sebagai koresponden Uni Eropa di Brussels, Belgia pada 1989.
Pengalaman di Brussels selama 5 tahun membentuknya sebagai sosok Euroskeptis atau pengkritik keras Uni Eropa melalui tulisannya yang kritis.
Itu pun dia kerap dicerca karena disebut sering menuliskan fakta-fakta yang kebenarannya juga bisa dipertanyakan.
Selain itu, Johnson acap menuliskan tulisan-tulisan berbau rasis walau dia membantah keras sebagai seorang rasis dengan merujuk ke silsilah keluarganya yang penuh warna.
Johnson adalah jurnalis favorit mantan perdana menteri Margareth Thatcher yang terkenal akan reputasi sebagai pemimpin tidak bersahabat dengan Uni Eropa.
Johnson akhirnya terjun ke politik pada pemilu 1997 di mana dia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen untuk distrik Clwyd South.
Dia kalah dari calon Partai Buruh namun namanya mulai diperhitungkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/menlu-inggris_20161209_203902.jpg)