Boris Johnson, Mantan Jurnalis Penuh Kontroversi Yang Kini Jadi Perdana Menteri Inggris
Boris Johnson akhirnya memenuhi ambisinya menjadi Perdana Menteri Inggris setelah memenangkan pemilihan Pemimpin Partai Konservatif
Dia berkampanye ke seluruh penjuru negeri menggunakan bus besar merahnya menjabarkan kerugian yang diderita Inggris jika memilih bertahan di Uni Eropa.
Kampanyenya menjadi sorotan dan kritik termasuk dari rekan partai dan Cameron karena sejumlah pernyataan politiknya yang oportunis, tidak benar, serta membohongi warga Inggris.
Puncaknya dalam referendum rakyat Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa, Cameron mengundurkan diri, dan Johnson menjadi calon kuat penggantinya.
Namun ternyata dia secara mengejutkan memutuskan tidak mencalonkan diri, setelah mantan sekutu politiknya Michael Gove mengkhianatinya dengan maju dalam pemilihan.
Johnson sempat ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri oleh Theresa May.
Namun jabatan itu hanya diembannya selama 2 tahun.
Dia mengundurkan diri pada Juli 2018 karena perbedaan pendapat dengan May mengenai kesepakatan Brexit May yang menurutnya terlalu lemah.
Kali ini setelah menunggu tiga tahun, penantiannya membuahkan hasil.
Kunci 10 Downing Street, kediaman resmi Perdana Menteri Inggris akhirnya menjadi milik Boris Johnson.
Rakyat Inggris akan menagih salah satu janji kampanyenya yang paling lantang dia suarakan yaitu membawa keluar Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober, baik dengan kesepakatan ataupun tanpa kesepakatan Brexit.
Tidak sedikit yang khawatir apakah sosok yang tidak pernah lepas dari kontroversi ini akan dapat menjalankan tugas barunya dengan serius. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Boris Johnson: Sosok Kontroversial Perdana Menteri Baru Inggris
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/menlu-inggris_20161209_203902.jpg)