Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Prof Dr Imam Taufiq MAg, Santri Jombang jadi Rektor UIN Walisongo Semarang

UIN Walisongo Semarang telah memiliki rektor baru Periode 2019-2023, Prof Dr Imam Taufiq MAg. Ia baru dilantik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

Tayang:
Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
ISTIMEWA
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Imam Taufiq MAg 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang telah memiliki rektor baru Periode 2019-2023, Prof Dr Imam Taufiq MAg. Ia baru saja dilantik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Selasa (23/7/2019), di Operation Room Kemenag RI Jalan Lapangan Banteng Barat 3/4 Jakarta Pusat.

Prof Dr Imam Taufiq MAg menggantikan rektor sebelumnya, Prof Dr Muhibbin MAg, yang habis masa jabatannya.

Imam Taufiq merupakan Guru Besar Ilmu Tafsir. Lahir di Jombang 31 Desember 1972, sebelumnya menjabat Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Walisongo.

Bagaimana kisah dan lika-liku perjalanan menempuh pendidikan dimulai dari seorang santri hingga memegang jabatan tertinggi di perguruan tinggi? Berikut hasil wawancara wartawan Tribun Jateng dengan Prof Dr Imam Taufiq MAg, beberapa waktu lalu:

Perasaan Anda setelah dilantik?

Amanah itu sesuatu yang harus dilaksanakan, diemban dengan sungguh-sungguh. Memahami konteks tanggungjawab berat seperti itu (rektor) tentu berat, jadi harus diseriusi.

Saat dilantik juga masih merasa ini mimpi atau bukan. Saya merasa Adaptasi saya terlambat, karena tidak terngingang kepastiannya.

Menurut saya masih banyak yang mumpuni dan banyak senior-senior saya juga. Terus terang adaptasi dan kaget saya masih belum tuntas. Tapi karena sudah dididik sejak kecil sebagai santri, amanah itu tidak boleh ditolak.

Informasi awal kepastian terpilih?

Saat itu, pukul 19.30 WIB ditelepon oleh salah satu pejabat dari Kemenag. Saya diminta untuk datang ke Jakarta untuk pelantikan. Saya tanya pelantikan apa? Dijawab, Rektor. Tapi saya masih belum yakin, kemudian saya tanya, harus pakai baju apa? Dijawabnya pakai PDH lengkap. Saya sempat tanya ke beberapa teman di universitas lain (yang kebetulan juga ada seleksi rektor) katanya juga sudah diberi info. Akhirnya saya baru yakin.

Orang yang pertamakali diberitahu?

Saya cerita sama istri. Bagi saya apapun, mulai soal mengelola pondok, atau yang lain, selalu diskusi. Bagi saya istri bukan hanya mitra tapi bagian tubuh saya.

Saya juga telepon Pak Rektor (Prof Muhibbin/rektor yang sedang menjabat) untuk pamit, beliau ucapkan selamat, dan legowo menyerahkan jabatannya pada saya.

Sewaktu jadi pelajar, pernah bercita-cita jadi Rektor?

Enggak babar blas, enggak pernah sama sekali. Sejak kecil ingin jadi guru. Karena orangtua saya dua-duanya guru di MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan di MTS (Madrasah Tsanawiyah), kalau sore Abah saya ngajar di Madrasah Diniyah Mambaul Maarif Denanyar Jombang. Jadi harapannya bisa meniru mengajarkan keagamaan pada orang lain.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved