Prof Dr Imam Taufiq MAg, Santri Jombang jadi Rektor UIN Walisongo Semarang
UIN Walisongo Semarang telah memiliki rektor baru Periode 2019-2023, Prof Dr Imam Taufiq MAg. Ia baru dilantik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
Saya sekolah MI di Denanyar Jombang, kemudian di MTSN Denanyar Jombang. Kalau sore langsung diniyah, kalau capek tidurnya di Pondok Denanyar, jadi bisa dibilang saya santri di Denanyar karena saya ngajinya juga di sana. Yang ngajar juga ada Kiai Iskandar, bapaknya Cak Imin (Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PKB).
Sejak kapan ada perubahan cara berfikir?
Salah satu yang mengubah cara berfikir, adalah waktu di MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) di Jember.
Di MAPK menurut saya shopping of idea, belanja ide dan gagasan. Semua model ilmu dan madzhab diajarkan, tidak ada fanatisme. Maka siswanya memiliki toleransi tinggi, diajari oleh para ahlinya. Siswanya hebat-hebat semua, itu memacu saya untuk maju dan berprestasi, itu yang membedakan dengan sekolah-sekolah lain waktu itu.
Bagi saya, sejak itu yang membuat inspirasi saya melakukan sesuatu secara terencana. Mohon maaf, biasanya pelajar setingkat Aliyah, ketika lulus bingung mau kuliah di mana, ambil jurusan apa, kedepan mau jadi apa.
Saya waktu itu sudah memiliki tujuan pokoknyaharus lebih maju, bisa berkontribusi untuk umat. Jadi terpapar semangat untuk bisa melakukan yang terbaik itu dimulai dari Aliyah.
Angkatan saya waktu itu hampir setengahnya kuliah di IAIN Walisongo Semarang, karena waktu itu IAIN memang menggratiskan lulusan MAPK, itu yang bikin saya tertarik.
Lika-liku dalam menempuh pendidikan?
Saya merasa belajar itu sama dengan melaksanakan amanah. Amanah orangtua, amanah Kiai. Di lingkungan pembelajar yang dituntut untuk melaksanakan amanah sebaik-baiknya.
Saya diminta mondok di Jember, memang orangtua merasa berat pisah dari anaknya, tapi saya tahu dia ingin anaknya lebih mandiri dan sukses serta barokah. Proses ini menurut saya menjadikan di manapun menjalankan amanah harus dilaksanakan dengan baik.
Di sisi lain, juga untuk membahagiakan orangtua, saya merasa bukan karena saya bisa membaca bisa belajar tapi karena doa orangtua saya, atau mungkin doa para embah-embah saya yang dulu berdoa untuk keturunannya.
Termasuk ketika S1, saya merasa kuliah di IAIN sangat mudah. Bahasa Arab cuma seperti itu, saya merasa mata kuliahnya seperti pelajaran di kelas 1 MAPK.
Saya kuliah tidak pernah bawa buku, hanya bawa kertas saya masukan saku celana jeans, banyak orang menyebut sombong, tapi bagi saya kuliah sangat mudah. Tapi, saya tetap mencatat poin-poinnya.
Saat itu, ketika mau ujian semester teman-teman sibuk belajar tapi saya nonton film di TI (Tugu Indah atau tempat bioskop) Jrakah, itu hampir tiap hari. Pernah waktu Mid Semester, saya nonton film di TI malah ketemu dosen, akhirnya saya malah dibayarin. Ternyata saat ujian juga gampang, dan IPK saya tertinggi mencapai 3,89 sampai lulus the best.
Ketika teman-teman serius kuliah, saya di level lebih tinggi. Karena memang saat itu kumpulan saya dengan senior-senior, dengan dosen-dosen muda, dengan atasannya. Jadi cara berfikirnya sudah level-level tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rektor-uin-walisongo-semarangprof-dr-imam-taufiq-mag.jpg)