Aipda Bakti Sisihkan Gaji dan Tabungan Haji Untuk Dirikan Taman Pendidikan Al-Quran

Karenanya dia berpikir sebagai anggota polri musti dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat khususnya lingkungan tempat tinggalnya

Aipda Bakti Sisihkan Gaji dan Tabungan Haji Untuk Dirikan Taman Pendidikan Al-Quran
Tribunjateng.com/M Nafiul Haris
Aipda Bakti Nur Cahyo Kaurident Satreskrim Polres Salatiga saat mengajar seusai jadwal piket sehari-hari di TPQ ‘Prabu Kresna’ miliknya Dusun Congol RT 02/RW 01, Desa Medayu, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Kamis (8/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Seringnya menjumpai pelaku tindak kejahatan ketika bertugas sebagai anggota polri satu diantara sebab perilaku kriminal karena kurangnya sentuhan agama pada seseorang, membuat Aipda Bakti Nur Cahyo (41) tergerak mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) ‘Prabu Kresna’ di kampung halaman Dusun Congol RT 02/RW 01, Desa Medayu, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Semula aktivitas belajar mengajar memanfaatkan ruangan rumahnya, setelah delapan tahun berjalan sejak resmi berdiri 2012 lalu kini total ada sekira 60 santri dan tiga pengajar.

Kepada mereka tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis, sedang tenaga pengajar tetap diberikan uang lelah (bisyaroh) semampunya dari menyisihkan gaji bulanan.

Aipda Bakti Nur Cahyo mengatakan ide mendirikan TPQ dilatarbelakangi karena ditempatnya tinggal sekarang belum ada TPQ yang mengajarkan anak-anak belajar ilmu agama.

Ia khawatir, generasi masa depan bakal mudah terjerumus pada perilaku menyimpang apabila kurang dibekali dengan pengetahuan agama yang cukup.

“Hingga di tahun 2012 saya bersama istri memutuskan mendirikan TPQ yang kami namai ‘Prabu Kresna’ memanfaatkan sebagian tanah didepan rumah. Biaya pembangunan diambilkan dari menyisihkan gaji bulanan Rp 600 ribu dan tabungan yang semula hendak kami gunakan untuk naik haji,” terangnya kepada Tribunjateng.com, Kamis (8/8/2019)

Aipda Bakti yang kini menjabat sebagai Kaurident Satreskrim Polres Salatiga bercerita dari pengalaman menjadi polisi hampir 18 tahun berlangsung menilai ketika seseorang itu sedang goyah mengalami ujian hidup ditambah dasar agamanya kurang sangat berpotensi melakukan tindak kejahatan kriminal.

Karenanya dia berpikir sebagai anggota polri musti dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat khususnya lingkungan tempat tinggalnya.

Terlebih dia memiliki anak kecil dengan masa depannya yang masih panjang apabila lingkungan sekitarnya kurang baik, dikhawatirkan turut mempengaruhi tumbuh kembangnya.

Meski sekarang sudah ada tenaga pengajar sendiri termasuk istrinya, tak jarang sepulang piket bekerja di Polres Salatiga dirinya juga turut membantu mengajar para siswa atau santri di TPQ ‘Prabu Kresna’ miliknya.

Halaman
12
Penulis: M Nafiul Haris
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved