Rifqon Sebut Banyak yang Salah Kaprah Mengartikan Keris

Museum Ranggawarsita Kota Semarang gelar pameran pendidikan bertemakan budaya dan patriotisme, di GOR Jatayu Kota Pekalongan.

Rifqon Sebut Banyak yang Salah Kaprah Mengartikan Keris
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Rifqon Arodhi, Ketua Paguyuban Bromo Kendali, berfoto dengan keris yang dipamerkan dalam pemeran pendidikan bertemakan budaya dan patriotisme, di GOR Jatayu Kota Pekalongan, Rabu (28/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Museum Ranggawarsita Kota Semarang gelar pameran pendidikan bertemakan budaya dan patriotisme, di GOR Jatayu Kota Pekalongan.

Adapun benda peninggalan budaya seperti keris dipajang untuk mengedukasi masyarat.

Sekitar 30 keris dipajang dalam pameran, selain itu panitia juga menyiapkan sejumlah pembimbing untuk mengedukasi pengunjung.

Rifqon Arodhi yang merupakan
Ketua Paguyuban Bromo Kendali, satu di antarannya.

Di mana Rifqon tak henti-hentinya memaparkan terkait benda pusaka peninggalan budaya nenek moyang tersebut ke pengunjung.

Hal itu dilakukan, karena menurut Rifqon, banyak yang salah kaprah menilai keris.

Risky Heran Lihat Keris Menyerupai Naga di GOR Jatayu Pekalongan

Isnaini Dorong 2020 Kolam Renang Milik Pemkot Pekalongan Kembali Diaktifkan

Bawaslu Jateng Catat Penggunaan Fasilitas Negara dan Kampanye di Masjid Banyak Dilakukan Caleg

Bupati Anggarkan Hampir Rp 1 Miliar, Jalan Menuju Curug Sikopel Pagentan Banjernegara Dibangun

“Banyak yang salah paham soal keris, karena keris sering dikaitkan dengan dunia mistis, ataupun klenik.

Padahal dalam Al-Quran juga disampaikan tentang besi yang mengandung kekuatan, di mana masyarakat Jawa menyebutnya pusaka salah satunya keris,” jelasnya, Rabu (28/8/2019).

Dilanjutkannya, keris merupakan warisan budaya nusantara dan wajib dikenalkan ke masyarat.

“Bukan mistisnya, tapi sejarahnya yang wajib dikenalkan.

Apalagi sejarah masuk kurikulum dunia pendidikan,” paparnya.

Dikatakan Rifqon, baik masyarakat umum atau pelajar wajib mengetahui benda cagar budaya agar lebih mencintai budaya dan sejarah Indonesia.

“Maka dari itu dalam pameran disediakan pembimbing supaya pengunjung lebih mengenal keris serta benda pusaka lainya,” imbuhnya.

Rifqon menambahkan, adanya edukasi mencerahkan pendangan masyarat terhadap benda pusaka.

“Supaya persepsi terhadap keris di masyarakat berubah, dengan harapan mereka ikut melestarikan keris sebagai benda cagar budaya,” tambahnya.(bud)

Penulis: budi susanto
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved