Sejarah Ciu Bekonang: Pasukan Kerajaan Kadiri Taklukkan Mongol Berkat Ciu
Ketua Paguyuban Alkohol Bekonang, Sabar mengatakan bahwa tradisi pembuatan ciu di desanya sudah ada sejak lama.
Jateng juga punya istilah badeg, ciu, dan tuak," imbuh pria yang telah menulis buku-buku sejarah pantura itu.
Beberapa daerah penghasil minuman beralkohol yang terkenal sejak dulu yakni di Bekonang dan Tegal.
Di Tegal ada pusat penyulingan ciu. Yang legendaris adalah Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal dan Tempa.
Gumayun sudah ada sejak abad XIX masyarakat lihai mengolah tetes tebu menjadi arak putih dengan kadar alkohol lumayan tinggi.
Sedangkan Tempa di Kota Tegal adalah pusat pengolahan dengan berbagai ramuan lainnya seperti tangkur buaya (hewan sejenis ikan laut).
Industri ciu berkembang di kampung- kampung marjinal seperti Tempa (dekat dengan pelabuhan).
Selain Bekonang dan Tegal, industri ciu dikenal sejak lama di Banyumas yang juga memiliki kantong- kantong produsen ciu.
"Dari Eropa orang Jawa mengenal Jenewer. Dari Tionghoa mengenal ciu dan brangkal," tuturnya.
Pada abad XIX pemerintah kolonial ada jenis arak yang dikenal Batavia Arrack van Oosten.
Orang Tionghoa kala itu mengajarkan fermentasi tebu dan umbian menjadi minuman beralkohol.
Industri gula memberikan kontribusi soal ini.
Munculnya produsen ciu berkaitan dengan berdirinya pabrik-pabrik gula.
Seperti Bekonang yang dekat dengan Pabrik Gula Tasikmadu di Karanganyar. Gumayun yang dekat dengan Pabrik Gula Jatibarang. (tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tetes-tebu_20160801_135723.jpg)