Jembatan Bambu Keluarga Darno Turun Temurun Bantu Warga Melintas Demak-Kudus Ratusan Tahun
Jembatan penghubung antara Desa Kedungwaru Demak dan Desa Setrokalangan Kudus dibuat keluarga Darno turun-temurun.
Penulis: Moch Saifudin | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Jembatan penghubung antara Desa Kedungwaru Lor Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak dan Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus membantu ratusan pengendara dan pejalan kaki yang melintasinya setiap hari.
Jembatan yang terbuat dari bambu yang melintang di atas Sungai Wulan ini memiliki panjang dan lebar sekira 50 x 1,5 meter.
Pengendara sepeda motor pun harus bergantian saat melintas di jembatan tersebut.
"Jembatan pertolongan ini dipasang hanya ketika musim kemarau. Sekira awal Agustus lalu, saya memasangnya," jelas initiator jembatan, Darno, Senin (2/8/2019).
• Kisah Wanita di Kemijen Semarang yang Tinggal di Tengah Tumpukan Sampah, Tidur Bersama Kambing
• Gelandang PSIS Semarang Ini Diminati Badak Lampung FC dan Persebaya Surabaya
• Perampok Minimarket Seret Lalu Lucuti Pakaian Para Karyawan, Gondol Uang Rp 20 Juta
• Ada Bercak Sperma di Mayat Korban, Remaja Suku Baduy Ini Diduga Diperkosa Lalu Dibunuh
Selain itu, pengendara dari arah Demak harus menuruni jalan menurun sekira belasan meter.
Nampak pengendara yang berboncengan membuat sang pembonceng harus jalan kaki terlebih dahulu untuk melintasi jalan tersebut.
Darno menjelaskan saat musim penghujan, jembatan tidak dipasang lantaran debit air yang tinggi di Sungai Wulan tersebut.
Ia menyebut, banyak dahan dan pepohonan terbawa arus dari hulu menuju hilir sungai saat musim penghujan.
"Kalau musim penghujan, saya membantu menyeberangkan pejalan kaki dan pengendara menggunakan perahu tarik," jelas Darno, warga Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus.
Ia menjelaskan, jembatan pernah tidak dipasang selama delapan bulan.
Kemudian banyak warga yang protes, terutama pabrik Djarum, lantaran kerapkali telat saat masuk kerja.
Ia menyebut, pengendara harus memutar sekira 15 kilometer jika berangkat kerja lewat jalan raya.
Ia menyebut, jembatan ramai pengendara melintas saat jam berangkat kerja, pukul 05.30 dan 12.30 WIB.
Darno (42) menjelaskan, telah membantu menyeberangkan orang menggunakan perahu tarik sejak ia berumur 6 tahun.
Hal tersebut ia lakukan selama turun-temurun dari ayahnya. Ia menyebut sekira seratusan tahun.
Pengendara yang melintasi jembatan tersebut, lanjut Darno, yaitu warga Desa Kedungwaru Lor dan sekitarnya.
"Kebanyakan pengendara yang bekerja di Pabrik Djarum, Sukun, Pabrik Sepatu di Jepara, dan warga Demak yang ingin ke Pasar Mijen Kudus," jelasnya.
Ia melanjutkan, ada juga warga Demak yang hanya sekedar melintas untuk jalan jalan ke Kudus, dan juga pelajar.
Pelajar tersebut, diantaranya SMK Prambatan, SMK Garung Lor, dan SMK Maarif NU Kudus.
"Kalau pelajar, misalnya kehabisan ongkos ya bayar seikhlasnya. Atau bahkan nunut lewat saja, tidak apa-apa," jelasnya.
Ia menjelaskan, warga yang melintas tersebut biasa membayar Rp 2000 untuk biaya melintas pergi-pulang.
Nampak juga seorang yang mengendarai sepeda motor yang menggunakan plat awalan H dan E sebagai akhiran, nampak menukarkan uang Rp 50 ribuan.
Lalu oleh Darno diberikan uang pecahan dua ribuan.
Saat Darno menyuruh seorang pengendara ibu-ibu tersebut untuk menghitung uangnya terlebih dahulu, ibu-ibu tersebut bilang,
"Aku percoyo, wong bendino lewat kene," jelasnya sembari langsung memasukan uang pecahan dua ribuan tersebut ke dalam dompet dan tasnya.
Sementara, Kepala Desa Kedungwaru Lor, Karsumo mengatakan, bahwa jembatan tersebut sudah lama berlangsung saat musim kemarau tiap tahunnya.
Ia menjelaskan, jembatan tersebut sudah melalui pergantian berbagai lurah sebelumnya.
Ia menjelaskan, Lurah sebelumnya telah berbicara ke Pemerintah Kabupaten Demak perihal jembatan tersebut.
"Namun tidak ada tindakan pasti sampai saat ini," jelasnya.
Ia menjelaskan, telah mewacanakan solusi jembatan tersebut kepada empat desa sekirtanya.
Yaitu, Desa Kedungwaru Lor, Kedungwaru Kidul, Tugu Lor, dan Kotakan.
"Warga yang biasa melintas di jembatan tersebut, ya empat desa tersebut. Saya siap untuk mengajak ketiga desa tersebut untuk memikirkan solusi jembatan ke depan," jelasnya. (Tribunjateng/Moch Saifudin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/jembatan-sungai-wulan-di-perbatasan-desa-kedungwaru-lor-demak-dan-desa-sentrokalangan-kudus.jpg)