Potret Kerukunan di Desa Banjarpanepen Banyumas, Saling Gotong Royong Antar Umat Beragama
Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas adalah desa percontohan sadar kerukunan antar umat beragama.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas adalah desa percontohan sadar kerukunan antar umat beragama.
Potret masyarakatnya yang saling menghormati dan menjunjung tinggi sikap toleransi menjadikan Desa Banjarpanepen sebagai desa sadar kerukunan.
Dalam satu desa tersebut terdapat berbagai macam umat beragama seperti Islam, Kristen, Budha, dan aliran kepercayaan yang dapat hidup damai dan rukun dalam bingkai kebudayaan Banyumasan.
"Kami dari umat kristen dalam satu desa ini kurang lebih ada 372 jiwa atau 95 KK.
Selama ini tidak pernah ada gesekan yang terjadi.
Semua tercipta dalam sebuah bingkai kerukunan, ujar Wagiman, selaku ketua Gereja Desa Banjarpanepen kepada Tribunjateng.com, Senin (2/9/2019).
• Aliansi Masyarakat Peduli Papua : Jangan Takut Tinggal di Solo
• 3 Desa di Kabupaten Pati Jadi Sasaran Teror Penembakan, Rumah Kantor hingga Mobil Jadi Sasaran
• Inilah Perbandingan Vivo S1 dan Realme X, Pilih Mana?
• 5 Tersangka Segera Sidang, Kejati Jateng Bidik Pimpinan BRI Purbalingga dalam Kasus Kredit Fiktif
Wagiman mengungkapkan jika hubungan dengan agama-agama dapat berjalan dengan baik, karena peran dari aparat desa yang memupuk rasa kerukunan.
Contoh kongkritnya misalnya adalah dalam setiap kegiatan kebudayaan pasti akan selalu melibatkan seluruh warga yang berasal dari berbagai agama tersebut.
Sementara itu Maryono, sebagai pendeta dari Agama Budha mengatakan jika penganut Budha di Desa Banjarpanepen sendiri ada sebanyak 160 KK atau 900 jiwa.
"Kami dari umat Budha kurang lebih ada 900 jiwa, untuk tempat ibadahnya sendiri ada 5 Vihara," katanya.
Senada dengan perkataan dari Wagiman, Maryono sebagai seoarang tokoh Budha juga merasakan adanya tolerensi yang tinggi di Desa Banjarpanepen.
Maryono yang sedari kecil sudah tinggal di Desa Banjarpanepen ini mengaku tidak pernah mengalami konflik antar umat beragama.
"Kalau hari Waisak di Vihara jika ada pemasangan tenda, atau ada acara wayang umat-umat agama lain biasanya ikut membantu.
Sedangkan jika Idul Fitri atau lebaran, kita biasanya datang dan bahkan didatangi umat Islam untuk saling memaafkan," katanya.
Sementara itu umat lain yaitu Simade Subali dari perwakilan umat Hindu mengatakan jika dirinya adalah mantan Bhabinkamtibmas Desa Banjarpanepen yang sudah bertugas selama lama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kerukunan-jti.jpg)