Mengenal Batik Cap Motiv Demak Milik Yanto, Selalu Ada Gambar Belimbing dan Jambu
Batik cap motiv Demak meliputi motiv blimbing dan jambu sebagai icon Kabupaten Demak.
Penulis: Moch Saifudin | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Batik cap motiv Demak meliputi motiv blimbing dan jambu sebagai icon Kabupaten Demak.
Rumah produksi milik Yanto di Genggongan Rt 5 Rw 2, Kelurahan Mangunjiwan, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.
Yanto (46) menjelaskan motiv cap batik Demak biasanya bermotiv jambu, blimbing, dan ornamen Masjid Agung Demak.
"Ornamen Masjid Agung Demak biasanya Pintu Bledek, dan Dampar Kencono yang terdapat pada mimbar khutbah," jelasnya, Jumat (6/9/2019).
Selain itu, campuran motiv batik capnya biasa terdapat kembang kantil, motiv kawung dan lainnya.
Ia menjelaskan, konsumen batik Demak biasa memesan dengan warna cerah.
Selain itu, ia mengaku 80% penjualannya berasal dari penjual batik dan dinas di Kabupaten Demak.
• 45 Kelompok Tani di Pekalongan Dapat Bantuan 30,36 Ton Bibit Jagung Hibidra dari Kementan
• Bupati Haryanto Jamin Keamanan Pelajar Asal Papua di Pati
• APTI : Kenaikan Cukai Rokok Bisa Matikan Ekonomi Jutaan Petani Tembakau di Indonesia
• Tangan Tiruan Buatan Mahasiswa Poltekkes Surakarta Raih Juara I di Ajang Krenova Karanganyar 2019
"Dalam sebulan saya biasa memproduksi 300-500 lembar kain batik cap," jelasnya.
Ia menjelaskan bisa menerima pesanan 100 pesanan untuk dikerjakan dalam 10 hari.
Ia juga pernah mengerjakan pesanan sebanyak 378 pesanan baik selama 10 hari pengerjaan.
"Minimal 300 lembar dalam sebulan," jelas Yanto.
Yanto menjelaskan, ia produksi batik cap seorang diri. Namun saat mendapat pesanan banyak, ia minta bantuan temannya untuk mengerjakan.
Ia menyebut, harga perlembar batik capnya yang berukuran 2 x 1,15 meter tersebut kisaran harga Rp 65-120 ribu.
Ia menyebut dalam satu tahun omset penjualan 2017, Rp 180 juta.
"Batik dari sini juga pernah laku oleh orang Australia saat bazar di Unnes. Batik tersebut bermotiv sisik, atau batik khas pantura," jelasnya.
Terkait prosesnya, ia menjelaskan ada beberapa tahapan, diantaranya memberikan motiv dasaran, memberikan cap tembaga, dan finishing.
Terkait finishing, ia menjelaskan, diantaranya menjemur, dan menggodok kain untuk menghilangkan warga gelap yang sebelumnya untuk menutup warna cerah sebelumnya.
Ia menjelaskan, memulai bisnisnya sendiri sejak tahun 2013 yang sebelumnya sempat bekerja di produksi batik lain.
"2004 sempat mendapat pelatihan membuat batik, kemudian ikut kerja membuat batik di tempat orang setelah itu. Lalu 2013 membuat produksi sendiri," jelasnya.
Ia menjelaskan, tempat produksi di Demak setidaknya terdapat tujuh tempat produksi batik, yang didominasi batik cap.
Diantaranya, yang tersebar di berbagai wilayah, Krapyak, Karangmlati, dan Guntur. (Tribunjateng/Moch Saifudin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/batik-cap-ivo.jpg)