Opini Wilson MA Therik: Kota Salatiga sebagai Heritage City

Kota Salatiga Sebagai Heritage city (Kota Pusaka atau Kota Warisan Budaya/Sejarah), tidak sepopuler kawasan Kota Tua di Jakarta atau kawasan Kota Lama

Opini Wilson MA Therik: Kota Salatiga sebagai Heritage City
IST
Wilson M.A. Therik, Dosen Pascasarjana Studi Pembangunan UKSW Salatiga 

Oleh: Wilson M.A. Therik, Dosen Pascasarjana Studi Pembangunan UKSW Salatiga

KOTA Salatiga Sebagai Heritage city (Kota Pusaka atau Kota Warisan Budaya/Sejarah), tidak sepopuler kawasan Kota Tua di Jakarta atau kawasan Kota Lama di Semarang atau kawasan Kota Lama di Bandung (Bandung Heritage) atau kawasan Malioboro di Yogyakarta. Jika dilihat dari usia berdirinya, umur kota Salatiga tidaklah muda dan sudah tentu kota ini telah banyak mengukir peristiwa bersejarah serta meninggalkan banyak aset heritage (warisan sejarah) yang berangsur-angsur terancam punah. 

Kota Salatiga telah berdiri sejak era kolonial di mana pada mulanya Salatiga hanya dibentuk sebagai Kota Garnisun oleh VOC dan yang pertama kali dibangun adalah Benteng De Hersteller pada tahun 1746 yang keberadaannya kemudian tergantikan oleh Benteng Hock pada Tahun 1814 yang kini dimanfaatkan sebagai Kantor Satlantas Polres Salatiga, serta bangunan kuno lainnya yang sebagian besar masih dimanfaatkan sebagai kantor pemerintah. Sebagai heritage city tentu Kota Salatiga membutuhkan revitalisasi agar pengelolaan aset heritage tetap berkelanjutan berbasis pada pariwisata (terutama wisata sejarah) dan ekonomi kreatif. 

Supangkat (2007) memberi beberapa catatan penting tentang benda cagar budaya di Kota Salatiga. Pertama, sudah lebih dari 70 bangunan cagar budaya di Salatiga lenyap, misalnya Tugu Beatrix menjadi lapangan parkir Mal Tamansari, Tweede Europsche Lagere School yang kini menjadi Pasar Blauran. Bioskop pertama di Salatiga menjadi gedung Kentucky Fried Chicken (KFC).

Kedua, hancurnya gazebo Pakuwon yang letaknya sekitar 50 meter dari Kantor Walikota Salatiga bertahun-tahun dibiarkan terlantar, belakangan bangunan gazebo tersebut lenyap. Ketiga, tidak ada rekonstruksi gedung bekas Markas Kodim 0714 Salatiga yang dirobohkan karena akan dibangun hotel dan pusat perbelanjaan modern namun mendapat perlawanan dari Forum Peduli Benda Cagar Budaya (Forped BCB) Kota Salatiga.

Bahkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah juga mendesak bangunan yang sudah dipreteli atap dan kusennya, serta dijebol sebagian temboknya itu untuk segera direkonstruksi, namun sampai hari ini belum ada tanda-tanda untuk direkonstruksi, sebagaimana yang dilaporkan dalam Kompas (12/10/2010).

Dari catatan yang dikemukakan oleh Supangkat dan pengamatan lapangan yang dilakukan oleh penulis, dapat penulis kemukakan bahwa wilayah Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga adalah merupakan kawasan warisan budaya/sejarah (kawasan bangunan tua/bangunan bersejarah). Ditandai dengan hadirnya berbagai bangunan tua terutama di sepanjang Jalan Diponegoro, Bundaran Tamansari dan sekitarnya, Jalan Sudirman dan sekitarnya, Jalan Patimura dan sekitarnya, Lapangan Pancasila dan sekitarnya adalah kawasan yang membutuhkan revitalisasi.

Tujuannya agar bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri (yang terawat maupun yang tidak terawat) dapat bermanfaat bagi pembangunan berkelanjutan di Kota Salatiga terutama dari aspek pariwisata kota dengan penekanan pada wisata sejarah/wisata pendidikan dan ekonomi kreatif (termasuk wisata kuliner yang sedang berkembang). Mengingat Kota Salatiga adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang berdiri pada tanggal 24 Juli 750 sebagaimana tertera pada prasasti Plumpungan yang dijadikan dasar asal usul kelahiran Kota Salatiga (Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga).

Pada Tahun 1823 bekas gedung mesiu dialihfungsikan dan dibangun kembali menjadi Indische Kerk (kini gedung Gereja Prostestan Indonesia di bagian Barat-GPIB Jemaat Tamansari Salatiga) yang kemudian diikuti oleh pembangunan tempat ibadah lainnya di Kota Salatiga. Penulis juga mengamati beberapa bangunan tua lain yang masih berfungsi dan terawat dengan baik, antara lain dimanfaatkan untuk perkantoran, sekolah dan rumah tinggal seperti gedung Korem 073 Makutarama, BCA Cabang Salatiga, Kantor Pos Kota Salatiga, Rumah Jabatan Walikota Salatiga, Rumah Jabatan Danrem 073 Makutarama, Gedung A dan B serta Rumah Notohamidjojo dalam kompleks UKSW Salatiga, Istana Tjoneng (sekarang gedung Roncali), BPR Satya Artha, Rumah Tinggal Ny. Hartini Soekarnoputeri (Istri dari Presiden RI Pertama Ir. Soekarno), Eks. Cafe Merah Putih, Hotel Kalitaman (sekarang Gedung Bank Jawa Tengah Cabang Kota Salatiga), Gudang/Garasi Bus ESTO (Otobis pertama di Salatiga yang masih beroperasi sampai sekarang). 

Secara teoretis ada 5 (lima) prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sebuah heritage city yaitu (1) kemudahan aksesibilitas (seperti sistem transportasi: rute, mode transportasi, terminal, infrastruktur halan), (2) objek wisata (tangible  dan intangible): alam (cagar alam), buatan manusia, bangunan, tujuan dibangun, cagar budaya, (3) aktivitas hal yang dapat dilakukan (indoor/outdoor), sirkulasi udara, cahaya, (4) fasilitas: akomodasi, makanan-minuman-service, ritel dan jasa wisata lainnya (5) layanan tambahan: kantor pos, bank, money changer, dan hal yang tidak kalah penting adalah perencanaan dan pengembangan promosi serta kolaborasi dengan semua stakeholder (Goeldher dan Ritchie, 2009). 

Halaman
123
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved