Ngopi Pagi

FOKUS : Wejangan Sang Kesawasidi

ARKIAN, Prabu Duryudana sang pemimpin Astinapura telah mendengar tentang wahyu yang bakal turun ke dunia. Wahyu makutarama.

FOKUS : Wejangan Sang Kesawasidi
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

ARKIAN, Prabu Duryudana sang pemimpin Astinapura telah mendengar tentang wahyu yang bakal turun ke dunia. Wahyu makutarama. Sesiapa kewahyon, memiliki wahyu itu, pantas menjadi raja gung binatara. Raja yang disegani di alam raya.

Duryudana yang menyimpan ambisi untuk menjadi penguasa dunia pun berkeinginan memiliki wahyu itu. Kemudian, dia mengutus Adipati Karna untuk mewakilinya, mencari wahyu makutarama.

Karna kemudian mendatangi seorang pertapa, Begawan Kesawasidi, di Pertapaan Kutarunggu. Sang begawan tak lain adalah Sri Kresna, titisan Batara Wisnu. Setiba di Kutarunggu, dia meminta wahyu makutharama, yang ada pada sang begawan.

Sang Kesawasidi, yang tahu benar untuk siapa Karna datang, tentu saja tak memberikannya. Dia mengaku, wahyu tidak ada pada dirinya. Singkat cerita, Karna pun pulang dengan tangan hampa.

Sikap berbeda ditunjukkan Begawan Kesawasidi, ketika Arjuna yang sowan. Arjuna datang sebagai utusan Prabu Puntadewa, sang kakak. Bagawan Kesawasidi tahu, Arjunalah yang pantas ditempati wahyu makutharama.

"Memang engkau, Arjuna, yang telah dipilih para dewa untuk menerima wahyu," kata Begawan Kesawasidi, kepada Sang Lelananging Jagad yang menghadapnya.

Namun, sang begawan mengatakan, wahyu makutarama itu sebenarnya tidak ada wujudnya. Bukan jimat, pusaka, atau sebuah benda. "Wahyu makutarama adalah sebuah wejangan luhur dari dewa yang diambil dari sifat baik Prabu Ramawijaya selama menjadi bertakhta," kata sang begawan.

Sesungguhnya, kata Begawan Kesawasidi, wahyu itu berbentuk pelajaran ilmu kepemimpinan bernama astabrata, yang dulu pernah diajarkan Sri Rama saat melantik Prabu Wibisana menjadi raja Singgelapura. Singgelapura merupakan nama baru untuk Alengkadiraja, yang dipilih Wibisana, setelah Rahwana takluk.

Halaman
123
Penulis: achiar m permana
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved