Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Wejangan Sang Kesawasidi

ARKIAN, Prabu Duryudana sang pemimpin Astinapura telah mendengar tentang wahyu yang bakal turun ke dunia. Wahyu makutarama.

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

ARKIAN, Prabu Duryudana sang pemimpin Astinapura telah mendengar tentang wahyu yang bakal turun ke dunia. Wahyu makutarama. Sesiapa kewahyon, memiliki wahyu itu, pantas menjadi raja gung binatara. Raja yang disegani di alam raya.

Duryudana yang menyimpan ambisi untuk menjadi penguasa dunia pun berkeinginan memiliki wahyu itu. Kemudian, dia mengutus Adipati Karna untuk mewakilinya, mencari wahyu makutarama.

Karna kemudian mendatangi seorang pertapa, Begawan Kesawasidi, di Pertapaan Kutarunggu. Sang begawan tak lain adalah Sri Kresna, titisan Batara Wisnu. Setiba di Kutarunggu, dia meminta wahyu makutharama, yang ada pada sang begawan.

Sang Kesawasidi, yang tahu benar untuk siapa Karna datang, tentu saja tak memberikannya. Dia mengaku, wahyu tidak ada pada dirinya. Singkat cerita, Karna pun pulang dengan tangan hampa.

Sikap berbeda ditunjukkan Begawan Kesawasidi, ketika Arjuna yang sowan. Arjuna datang sebagai utusan Prabu Puntadewa, sang kakak. Bagawan Kesawasidi tahu, Arjunalah yang pantas ditempati wahyu makutharama.

"Memang engkau, Arjuna, yang telah dipilih para dewa untuk menerima wahyu," kata Begawan Kesawasidi, kepada Sang Lelananging Jagad yang menghadapnya.

Namun, sang begawan mengatakan, wahyu makutarama itu sebenarnya tidak ada wujudnya. Bukan jimat, pusaka, atau sebuah benda. "Wahyu makutarama adalah sebuah wejangan luhur dari dewa yang diambil dari sifat baik Prabu Ramawijaya selama menjadi bertakhta," kata sang begawan.

Sesungguhnya, kata Begawan Kesawasidi, wahyu itu berbentuk pelajaran ilmu kepemimpinan bernama astabrata, yang dulu pernah diajarkan Sri Rama saat melantik Prabu Wibisana menjadi raja Singgelapura. Singgelapura merupakan nama baru untuk Alengkadiraja, yang dipilih Wibisana, setelah Rahwana takluk.

Asta berarti "delapan", sedangkan brata artinya "tindakan atau laku". Astabrata merupakan ajaran tentang kepemimpinan, yang meminta seorang pemimpin meneladani delapan benda alam, delapan unsur kehidupan.

Wahyu Makutarama merupakan salah satu lakon pewayangan yang kerap dipilih, pada saat pelantikan seorang pejabat baru. Wajar kiranya, jika lakon itu yang melejing ke benak saya, pada hari ketika pemimpin negeri ini, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, resmi dilantik. Ya, Minggu (20/10/2019) sore, dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Jokowi-Ma'ruf resmi menjadi Presiden-Wakil Presiden RI periode 2019-2024.

"Sampean meh ngandhani Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf soal kepemimpinan? Aja sembrana, Kang," tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Sebagai orang Jawa deles, saya yakin, Pak Jokowi sudah hapal di luar kepala tentang astabrata. Petuah Sri Rama kepada Wibisana, yang baru saja naik takhta Alengkadiraja. Pasca-Brubuh Alengka, perang besar di Alengka. Petuah serupa sebelumnya diberikan Rama kepada sang adik, Bharata, yang sempat sangsi bisa memimpin Ayodyapala.

Pujangga besar Jawa, R Ng Yasadipura I (1729-1802), dalam Serat Rama Jarwa menjelenterehkan perihal astabrata. Pemimpin yang bisa menerapkan astabrata, bakal menjadi "ratu gung binathara trah andana warih, trahing kusuma rembesing madu". Di era yang lebih kiwari, penulis yang pernah memimpin Balai Bahasa Jawa Tengah, Pardi Suratno, mengulas astabrata dalam buku Sang Pemimpin (2006).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved