Ngopi Pagi

FOKUS : Wejangan Sang Kesawasidi

ARKIAN, Prabu Duryudana sang pemimpin Astinapura telah mendengar tentang wahyu yang bakal turun ke dunia. Wahyu makutarama.

FOKUS : Wejangan Sang Kesawasidi
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Asta berarti "delapan", sedangkan brata artinya "tindakan atau laku". Astabrata merupakan ajaran tentang kepemimpinan, yang meminta seorang pemimpin meneladani delapan benda alam, delapan unsur kehidupan.

Wahyu Makutarama merupakan salah satu lakon pewayangan yang kerap dipilih, pada saat pelantikan seorang pejabat baru. Wajar kiranya, jika lakon itu yang melejing ke benak saya, pada hari ketika pemimpin negeri ini, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, resmi dilantik. Ya, Minggu (20/10/2019) sore, dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Jokowi-Ma'ruf resmi menjadi Presiden-Wakil Presiden RI periode 2019-2024.

"Sampean meh ngandhani Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf soal kepemimpinan? Aja sembrana, Kang," tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Sebagai orang Jawa deles, saya yakin, Pak Jokowi sudah hapal di luar kepala tentang astabrata. Petuah Sri Rama kepada Wibisana, yang baru saja naik takhta Alengkadiraja. Pasca-Brubuh Alengka, perang besar di Alengka. Petuah serupa sebelumnya diberikan Rama kepada sang adik, Bharata, yang sempat sangsi bisa memimpin Ayodyapala.

Pujangga besar Jawa, R Ng Yasadipura I (1729-1802), dalam Serat Rama Jarwa menjelenterehkan perihal astabrata. Pemimpin yang bisa menerapkan astabrata, bakal menjadi "ratu gung binathara trah andana warih, trahing kusuma rembesing madu". Di era yang lebih kiwari, penulis yang pernah memimpin Balai Bahasa Jawa Tengah, Pardi Suratno, mengulas astabrata dalam buku Sang Pemimpin (2006).

Menurut Rama, harus memiliki watak Indra (kuat, tidak mudah goyah, dan mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas segala-galanya), Yama (tegas dan adil dalam menegakkan hukum), Surya (mampu memberi semangat dan kekuatan serta menjadi sumber energi bagi rakyatnya), Candra (memperlihatkan wajah lembut, tenang, berseri-seri sehingga masyarakat yang dipimpinnya merasa damai), Bayu (selalu dapat mengetahui keadaan dan kehendak rakyatnya), Kuwera (bijaksana mempergunakan dana/atau uang negara), Baruna (dapat memberantas segala bentuk penyakit yang berkembang di masyarakat , seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan negara), serta Agni (memiliki sifat-sifat selalu dapat memotivasi tumbuhnya sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam menundukkan musuh-musuhnya).

Beberapa jam sebelum pelantikan Jokowi-Ma'ruf, ulama kharismatik KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, dalam unggahannya di jejaring sosial Facebook, 20 Oktober 2019, menulis: "Maka tanggungjawab Bapak berdua sungguh berat namun mulia: tanggung jawab terhadap Allah dan rakyat.

Pimpinlah kami rakyat Indonesia dengan cinta dan belas kasih seraya senantiasa mengingat dan memohon pertolongan Allah. Tantangan seberat apa pun, akan terasa ringan bersama Allah dan pertolongan-Nya," imbuhnya.

Hingga Minggu malam pukul 22.00, 13 jam setelah diunggah, tulisan itu telah mendapatkan lebih dari 1.300 komentar. Tulisan itu menuai perhatian netizen dan dibagikan lebih dari 4.600 kali.

Dalam tulisan itu, Gus Mus berpesan, "Dalam memilih pembantu, pilihlah pembantu yang membantu, bukan yang mengganggu kerja. Pilihlah mereka yang mempunyai komitmen keindonesiaan dan bisa dan mau bekerja tulus untuk Indonesia dan rakyat Indonesia.

Halaman
123
Penulis: achiar m permana
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved