Banyumas Daerah Penyandang Thalasemia Tertinggi di Jawa Tengah
Penyakit Thalasemia menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat lantaran jumlah penderitanya yang terus bertambah.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Penyakit Thalasemia menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat lantaran jumlah penderitanya yang terus bertambah.
Hal ini diakibatkan karena masih kurangnya informasi dan pemahaman masyarakat tentang penyakit generatif ini.
Ketua Pusat Yayasan Thalasemia Indonesia, Ruswandi mengatakan saat ini di Banyumas penyandang thalasemia mencapai 500 orang lebih, dan tertinggi di Jawa Tengah.
"Kami mengapresiasi Bupati Banyumas yang menginisiasi pencanangan Bulan Thalasemia.
Pencanangan ini pertama di Indonesia bahkan dunia," ujarnya saat menyambut acara pencanangan bulan Thalasemia di Banyumas di Pendapa Sipanji, Sabtu (2/11/2019).
• MotoGP 2019 : Ada Pencuri di Sirkuit Sepang Malaysia, 6 Tim Balap Kehilangan Laptop hingga Sparepart
• BREAKING NEWS: Afridza Munandar Calon Juara Asia Talent Cup 2019 Meninggal Kecelakaan di Malaysia
• Udin Mengaku Beli Kampak Rp 100 Ribu untuk Bunuh Ayahnya Sendiri
• Asik, Ada Wahana Kolam Renang Anak Baru di Edupark Karanganyar
Sementara itu Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia Cabang Banyumas, Abdul Aziz Suparno mengatakan jika penyakit ini diturunkan ke anak, dari orangtua yang menderita thalasemia.
Namun demikian, menurutnya Thalasemia dapat dicegah dengan cara menghindari perkawinan antara pembawa sifat.
Oleh karena itu, salah satu upaya pencegahan harus dilakukan dengan cara skrining thalasemia melalui pemeriksaan darah.
Disamping itu perlunya edukasi pada masyarakat termasuk konseling sebelum pernikahan sangat diperlukan.
Penderita Thalasaemia mayor bisa mengalami sakit yang luar biasa.
Penderita harus menjalani transfusi darah seumur hidup minimal setiap bulan sekali.
Kondisi demikian menjadikan orang tua berkewajiban terus merawat, dan yang pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit.
"Biaya berobat per anak bisa mencapai Rp 10 juta per bulan.
Jadi kalau dalam keluarga ada anak penderita thalasaemia mayor, sangat memberatkan ekonomi keluarga," imbuhnya.
Menyikapi perlunya menyebarluaskan bahaya penyakit Thalasemia itu, PT Prodia Widyahusada mendukung kegiatan dengan menggelar kegiatan sosialisasi.
Utamanya adalah pencegahan dalam bentuk Skrining Thalasemia kepada perwakilan siswa SMA/SMK/MA di Kabupaten Banyumas.
Marina Eka Amalia, Legal Head & Corporate Secretary Prodia mengatakan, kegiatan edukasi pencegahan thalasemia ini menjadi bagian dari kegiatan corporate social responsiblity (CSR) PT Prodia.
"Kita memberikan skrining kepada 1.000 pelajar dan masyarakat di Banyumas yang dipusatkan di SMA Negeri Ajibarang, SMKN 2 Banyumas dan Pendopo Sipanji ini," katanya.
Bupati Banyumas, Achmad Husein meminta seluruh komponen masyarakat mendukung kegiatan pencanangan ini.
Menurut bupati yang terpenting adalah memutus mata rantai kelahiran Thalasemia Mayor, menuju Banyumas bebas Thalasemia tahun 2023.
"Bulan Nopember ini kita jadikan sosialisasi dan edukasi yang mencakup pemberian wawasan ke tentang penyakit thalasemia yang diturunkan secara genetik, metode penanganan dan cara mencegah kepada semua masyarakat dengan berbagai cara," katanya bupati.
Bupati mengintruksikan kepada semua rumah sakit dan puskesmas untuk melakukan skrining.
Hal tersebut perlu dilakukan sebagai data dalam penanganan Thalasaemia.
"Untuk menguatkan hal tersebut bilamana perlu keluarkan Peraturan Bupati agar penanganan tuntas," pungkasnya. (Tribunjateng/jti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kdjhsygr.jpg)