Kisah Heroik Jenderal Soedirman, Tulis dan Bacakan Sendiri Sumpah Jabatan, Tak Pernah Diingkarinya
Tetapi suasana kebatinan pengangkatan Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini tentu berbeda
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Menjelang pelantikannya sebagai panglima, Soedirman menulis sendiri sumpahnya dalam secarik kertas.
Setiap kata yang tertulis pastilah sesuai dengan kata hatinya.
Tidak mungkin ia menulis sesuatu yang dia sendiri tidak akan mampu melaksanakannya.
Sumpah yang dia tulis dengan sungguh-sungguh itu ia bawa ke tempat dia akan mengucap janji.
Soedirman tentu hafal betul apa yang dituliskannya.
Ia yang menulis dari kata hati, ia juga yang membacakan sumpah itu dengan penuh penghayatan.
"Sumpah pejabat sekarang dengan sumpahnya pak Dirman berbeda. Pak Dirman menulis sendiri sumpahnya dan dibaca sendiri.
Yang lain cuma menyaksikan. Bisa dinilai lebih berbobot mana dengan sumpahnya pejabat sekarang," kata Ajudan II Jenderal Soedirman Mayor TNI (purn) Abu Arifin di Dawuhan Purbalingga
Atasan Soedirman tidak membebaninya dengan sumpah yang dibuat orang lain, namun ia sendiri keberatan melaksanakannya. Karenanya, ia menulis dan membacakan sendiri sumpahnya. Karena nurani tak mungkin mengingkari. Sodirman harus mempertanggungjawabkan sumpah yang dia tulis dan diucapkannya sendiri.
Di antara bunyi sumpah yang ditulis dan dibaca Jenderal Soedirman adalah, sanggup mempertahankan Republik Indonesia sampai titik darah penghabisan.
Arifin coba membandingkan pengambilan sumpah Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini.
Tentu saja, kualitas sumpah pemimpin beda generasi itu jauh berbeda.
Alih-alih menulis sendiri sumpahnya.
Dalam ritual pengambilan sumpah saat ini, sumpah pemimpin dibacakan oleh atasannya.
Dalam membaca sumpah, mereka hanya meniru apa yang diucapkan pengambil sumpah. Pengambil sumpah pun telah memegang teks itu yang entah dibuat oleh siapa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ajudan-ii-jenderal-soedirm.jpg)