Kisah Heroik Jenderal Soedirman, Tulis dan Bacakan Sendiri Sumpah Jabatan, Tak Pernah Diingkarinya
Tetapi suasana kebatinan pengangkatan Jenderal Soedirman dengan pemimpin saat ini tentu berbeda
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
"Sekarang misal gubernur terpilih, yang nyumpah itu menteri dalam negeri atau kepala negara. Yang baca yang nyumpah, dia sudah pegang teks. Gubernur hanya mengikuti apa yang dikatakan penyumpah,"katanya
Soedirman nyatanya membuktikan sumpahnya itu. Minggu pagi, 19 Desember 1948, saat Agresi Militer Belanda II, Kota Yogyakarta yang lengang karena hari libur berubah mencekam.
Pesawat Cocor Merah milik Belanda sedang berpesta di udara. Pasukan Belanda telah memasuki kota dari lapangan udara Maguwo. Sebuah pabrik peniti di Lempuyangan yang dikira markas tentara telah hancur dibom.
Mereka ingin menangkap hidup-hidup Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta di istana.
Target lainnya, mereka hendak menangkap hidup atau mati Panglima Besar Jenderal Soedirman yang sedang sakit paru-paru parah.
Panglima Besar Jenderal Soedirman yang saat itu terbaring sakit di kamar rumah dinas di Jalan Bintaran Timur 8, seketika bangkit dengan wajah meradang.
Belanda telah mengkhianati genjatan senjata.
Istri Soedirman, Siti Alfiah dan dokter pribadi Mayor Suwondo menahan tubuh rapuhnya yang memaksa bangkit.
Menurut Arifin, Dirman tak menggrubis nasihat dokter yang memintanya tenang agar kesehatannya terjaga.
Soedirman benar-benar menepati sumpahnya. Ia akan mempertahankan tanah air sampai titik darah penghabisan.
Sumpah itu ditulis dan dibacakannya sendiri saat ia diangkat menjadi panglima.
Ia hanya sakit, meski sudah parah hingga berdiri pun susah. Namun darah masih mengalir di tubuhnya yang menandakan ia masih punya kesempatan untuk melawan. Sampai titik darah penghabisan yang mematikan kehidupannya.
Tak ada yang mampu menahan Soedirman yang keras kepala. Ia memaksa diantar pengawalnya ke istana untuk menghadap presiden. Soedirman dipapah ke mobil menuju istana, di bawah ancaman pesawat Belanda yang berseliweran di atasnya.
Ia menemui atasan bukan untuk meminta perlindungan atau dibebaskan dari tugas karena sakitnya yang parah. Soedirman justru ingin memohon ke presiden agar menurunkan mandat padanya untuk memimpin perlawanan.
Soekarno tak mungkin memberikan tugas pada Soedirman sementara dia sendiri tahu betul kondisi kesehatan panglima yang memburuk.
"Dia minta mandat presiden agar diizinkan melawan penjajah yang berkhianat. Karena dalam sumpahnya, pak Dirman sanggup mempertahankan RI sampai titik darah penghabisan,"katanya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ajudan-ii-jenderal-soedirm.jpg)