Trenggono Sebut 70 Persen Wisata di Jateng Berpotensi Diolah Menjadi Storynomic Tourism, Apa Itu?

Dalam rangka mengakselerasi percepatan pembangunan dari sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang mengembangkan konsep Storynomic Tour

Trenggono Sebut 70 Persen Wisata di Jateng Berpotensi Diolah Menjadi Storynomic Tourism, Apa Itu?
TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Disporapar Jawa Tengah, Trenggono, saat ditemui Tribunjateng.com, ketika menghadiri acara pameran pariwisata di MG Setia Hotel Semarang, belum lama ini. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dalam rangka mengakselerasi percepatan pembangunan dari sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang mengembangkan konsep Storynomic Tourism.

Saat ditemui Tribunjateng.com, Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Disporapar Jawa Tengah, Trenggono menyebut, bahwa ada sekitar 60-70 persen tempat wisata di Jateng yang berpotensi diolah menjadi Storynomic Tourism.

Perlu diketahui, Storynomic Tourism merupakan pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan menggunakan kekuatan budaya di dalamnya.

"Di Jateng terutama yang berkaitan dengan wisata budaya ada sekitar 60-70 persen yang berpotensi untuk diolah menjadi Storynomic Tourism.

Hampir semuanya memiliki story-story yang menginspirasi dan bagaimana cara kita merawatnya," tutur Trenggono, pada Tribunjateng.com, belum lama ini.

Warga Kota Pekalongan Menunggak Iuran BPJS Kesehatan hingga Rp 10,9 Miliar

Widodo Joko : Karya Bhakti TNI Dapat Majukan Pedesaan

Sagita Harus Putar Otak Cari Kelemahan Lawan di Kejurnas Taekwondo, Hasilnya 4 Medali Emas untuk UMP

Wali Kota Hendi Turun Tangan, PT MPP Janji Selesaikan Pembayaran Tanah Warga Mangkang Kulon

Dukungan dari pemerintah untuk para pengelola wisata supaya bisa mengolah Storynomic Tourism, menurut Trenggono dimulai dari pengembangan sumber daya manusianya.

Baik dari segi kualitas pelayanan, digital marketing, atau hal-hal lainnya.

Karena sehebat apapun daya tarik wisata, tanpa disentuh orang-orang yang peka terhadap pariwisata maka sama saja.

Sehingga sumber daya manusia perlu disentuh untuk pengembangan.

"Konsep Storynomic Tourism sudah diberlakukan beberapa tahun lalu.

Jadi perpaduan, sesuai undang-undang pariwisata pengembangan berkaitan dengan destinasi, industri, pemasaran, kelembagaan, dan sumber daya manusia.

Tidak boleh satu dan yang lainnya pincang, jadi harus dikerjakan bersama-sama," ungkapnya.

Adapun dengan adanya Storynomic Tourism ini, menurut Trenggono, orang tidak hanya terpuaskan dari sisi raga saja tapi juga dari sisi jiwa, mendapatkan sesuatu ketika melakukan perjalanan wisata ke Jateng.

Selain itu, Trenggono menyebut, konsep Storynomic Tourism bisa diterapkan hampir di semua tempat wisata contohnya Borobudur dan Sangiran.

"Jadi semisal pernah ke Masjid Agung Jateng, Sampokong, atau ke Borobudur, bagaimana cerita-cerita yang bernuansa untuk menguatkan semangat, bahwa mengunjungi daya tarik wisata tidak hanya nemuaskan raga tapi juga jiwa," ujarnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved