Mahasiswa Asing Ikut Mitigasi Hijau di Bantaran Sungai Bengawan Solo jadi Perhatian Warga
Para relawan dari Pekarya Sungai dan Sibat PMI Kota Solo, serta sejumlah mahasiswa UNS serta dari Belanda dan Jepang, melaksanakan resik-resik sungai
Penulis: yayan isro roziki | Editor: muh radlis
Terlebih, terdapat seorang relawan dari Sibat PMI Kota Solo yang berpenampilan ala tokoh kartun asal Jepang, Naruto.
Pengamat Sungai Balai Besar Wilayah Bengawan Solo, SM Budi Utomo, mengatakan penanaman akar wangi bertujuan mencegah erosi di bantaran sungai.
Menurutnya, selama ini banyak kasus di mana bantaran Bengawan Solo terkikis erosi.
"Hari ini libatkan 60-an orang, dari berbagai elemen.
Dari Sibat PMI, pekarya sungai, mahasiswa UNS, mahasiswa asing, dan lainnya," kata Budi.
Kenapa akar wangi yang dipilih?
Karena, menurutnya, saat ini tanaman yang disarankan dari pihak balai besar adalah jenis rerumputan.
"Jadi kami memang sengaja tidak menanam tanaman keras di bantaran Bengawan Solo, dan menanam akar wangi sebagai mitigasi hijau," ucapnya.
Diterangkan, selama bertugas sebagai pekarya sungai Kota Solo, pihaknya sering menemukan pohon atau pun rumpun bambu yang tumbang dan mengganggu aliran sungai.
"Itu harus kita bersihkan, agar tak menyumbat aliran.
Dan itu membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu," katanya.
Ia menambahkan, melibatkan sejumlah mahasiswa asing dan juga mahasiswa dari UNS dalam kegiatan ini.
Tujuannya, sambung dia, untuk membuka wawasan dan cakrawala penduduk sekitar.
"Kita membuka wawasan warga, bahwa kita bisa melakukan pengurangan risiko bencana, tidak harus ketika bencana terjadi dan tanggap darurat.
Di masa aman pun, kita harus melakukan pengurangan risiko dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat," imbuhnya. (yan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/relawan-mitigasi-bengawan-solo.jpg)