Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Umur Hampir Seabad, Kalimah Masih Eksis Membatik Tegalan

Di tengah pekarangan yang dipenuhi pepohonan, seorang nenek terlihat asyik memegangi canting sembari menginang.

Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muh radlis

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Di tengah pekarangan yang dipenuhi pepohonan, seorang nenek terlihat asyik memegangi canting sembari menginang.

Meski telah renta, tangannya masih lincah menggoreskan canting di kain primis membuat motif batik bernama jamuran.

Canting ia celupkan dalam malam yang panas, kemudian tanggannya menggoreskan kain perlahan dengan sedikit gemetar.

Nenek berusia 91 tahun itu akrab disapa Mbah Kalimah.

Ia tinggal di RT 02 RW 02 Kelurahan Kalinyamatwetan, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal.

Kalimah mengatakan, ia membatik sejak 66 tahun yang lalu, tepatnya sejak berusia 25 tahun.

Meski tidak seperti ketika muda, Kalimah senang mengisi hari- hari tuanya dengan membatik.

Peringatan Hari Guru Nasional, Pemkab Demak Pasang KB Gratis Serempak di 14 Kecamatan

Dewan Minta Pemprov Jateng Naikan Anggaran 3 Kali Lipat untuk Pembenahan Sarana Prasarana Sekolah

Prof Supandi Dikukuhkan Jadi Guru Besar Bidang Hukum Undip

Komisi C DPRD Kota Semarang : 1 Titik Bisa Sampai 7 Tiang, Merusak Estetika

"Orang seperti saya timbang tidur jadi penyakit, mending membatik dapat capek.

Itu pun saya lakukan di sela- sela membersihkan rumah, mencuci pakian, dan mencuci piring," kata Kalimah kepada tribunjateng.com, Kamis (28/11/2019).

Kalimah mengatakan, ada lima motif batik tulis yang bisa dibuatnya.

Yaitu motif batik jamuran, batik galaran, batik gribigan, batik beras mawur, dan batik cempaka putih.

Menurut Kalamah, biasanya pesanan datang dari orang- orang yang hendak menikah dan sunat.

Ia sendiri hanya melayani dua jenis pesanan, batik dalam bentuk tapih dan sarung.

"Harga satu batik Rp 350 ribu.

Tapi khusus tapih dengan motif batik cempaka putih harganya Rp 400 ribu," ungkapnya.

Menurut Kalamah, hasil karyanya sebagai pengrajin batik tulis tegalan tidak menjamin selalu ada.

Jika tidak ada pemesan, biasanya batik buatannya ia simpan.

Kadang ia harus meminjam uang tetangga terlebih dahulu untuk membuat batik.

Ia harus memastikan kain batiknya tetap menggunakan kain primis yang nomer satu.

Kemudian ia juga harus membeli malam seharga Rp 32 per kilogram.

"Saya tidak menjual batik di toko- toko.

Kalau ada yang mau pesan biasanya langsung datang ke rumah.

Tapi saya minta uang muka dulu buat beli bahan batik sama kinang," ungkapnya.

Selain Kalimah, ada juga seorang nenek pengrajin batik tegalan bernama Wasih (85).

Ia pun sama, membatik untuk mengisi kesenggangan di hari tua dan membeli kinang.

Wasih mengatakan, satu kain batik bisa ia selesaikan dalam setengah bulan.

"Timbang mengantuk, mending saya membatik.

Tapi kadang menjelang siang, saya berhenti dulu, masak gembus dan sayur buat makan cucu," ungkapnya.

Wasih mengatakan, mesti tidak banyak pemesan, namun uang hasil membatik cukup untuk membeli kinang, teh dan gula.

Ia biasanya menerima pesanan untuk calon pengantin.

Dalam satu paket ada tapih dan sarung dengan harga Rp 650 ribu.

Tapih seharga Rp 350 ribu dan sarung Rp 300 ribu.

"Dari pada minta uang ke anak untuk membeli kinanh, mending saya membatik.

Kalau tidak ada pesanan, ya batik- batiknya saya simpan," ungkapnya. (fba)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved