Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI : Zaman (Tak) Berdongeng

Pada 25 November 2019, publik mengetahui pesan-pesan pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui pidato.

Bram
Bandung Mawardi 

Oleh Bandung Mawardi

Kuncen Bilik Literasi

Pada 25 November 2019, publik mengetahui pesan-pesan pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui pidato.

Teks berisi pesan-pesan sudah beredar sekian hari sebelum puncak peringatan Hari PGRI atau Hari Guru Nasional. Kalimat-kalimat dalam pidato sudah dipikirkan mutu dan dampak. Teks itu memenuhi kaidah-kaidah serius dalam mengungkapkan pemikiran besar.

Kita menduga pesan bakal berbeda penerimaan jika disampaikan secara lisan. Menteri memang berhak menjadikan pidato itu dokumen pemikiran ketimbang ucapan-ucapan jarang memiliki tatanan apik secara kebahasaan.

Peristiwa besar juga berlangsung di Jakarta, 26 November 2019. Berita untuk peristiwa itu tak seheboh Hari Guru Nasional. Di koran-koran, kita membaca dua berita kecil.

Di Republika, 27 November 2019, kita mengutip ujaran Nadiem Makarim dalam Hari Mendongeng Nasional: “Apa maknanya mendongeng dan membaca itu? Maknanya adalah agar adik-adik semua senang dan mencintai cerita dan mencintai buku.

Karena dari cerita itulah kita menciptakan imajinasi dan dari situlah kita berlatih jadi kreatif.” Struktur kalimat memang dalam peristiwa lisan, bukan membaca teks. Ujaran menteri memiliki dua hal terpenting: dongeng dan imajinasi. Kita berkelakar saja ujaran itu memastikan dongeng adalah hasil imajinasi dan merangsang bocah berimajinasi. Perkara dongeng disampaikan di hadapan murid-murid SD, pejabat, orangtua, dan tamu undangan.

Kita menduga pesan dari menteri itu basi. Orang-orang sudah paham dongeng adalah imajinasi. Kita tak perlu memberikan kritik atau membuat surat menasihati menteri. Beliau terbukti memberi perhatian untuk dongeng. Kita berganti ke berita bertokoh istri menteri: Franka Franklin. Perempuan dalam dandanan anggun mendongeng ke ratusan murid SD.

Berita diMedia Indonesia, 27 November 2019, memuat omongan Franka Franklin: “Saya akan menceritakan si kancil yang sebanr-benarnya.

Di sini si kancil diceritakan menjadi sosok yang baik dan suka berbagi kepada teman-temannya.” Sejak dulu sampai sekarang, orang mengingat dongeng di Indonesia melulu kancil.

Ingatan baku tapi bermasalah. Khazanah dongeng Nusantara tak cuma kancil! Si pendongeng sudah berusaha mengubah watak kancil meski kita ingin ada kejutan dari kesanggupan mendongeng dengan tokoh binatang-binatang.

Nadiem Makarim dan Franka Franklin mungkin belum sempat membaca biografi menteri di masa pemerintahan Soekarno. Menteri itu bernama Prijono (1907-1969). Dulu, ia belajar sastra sampai ke Universitas Leiden (Belanda).

Beliau mengerti dongeng. Di pelbagai acara, ia mungkin menganjurkan agar mendongeng itu dilakukan dalam berbagi pesan atau hikmah. Dongeng bukan untuk bocah-bocah saja. Prijono malah menulis buku berjudulDongeng Sato Kewan(1952) dongeng dibaca kaum dewasa. Dongeng kental lelucon dan kritik demokrasi. Pada masa Orde Baru, kita mengenal Fuad Hassan.

Di sastra, ia menerjemahkan cerita-cerita dari negeri asing dan menulis kritik sastra Indonesia. Pada saat menjadi menteri, ia pasti pernah berpidato atau membuat tulisan bertema dongeng.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved