OPINI : Zaman (Tak) Berdongeng
Pada 25 November 2019, publik mengetahui pesan-pesan pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui pidato.
Di Indonesia, kita bakal terkejut jika ada Menteri Perdongengan Nusantara. Politik sudah menghasilkan ribuan dongeng tak bermutu dan mencipta bebalisme. Dongeng belum terlalu penting masuk dalam kebijakan-kebijakan negara.
Presiden jangan tergesa mengeluarkan keputusan-keputusan bakal memicu polemik mengenai dongeng. Puluhan tahun lalu, Soeharto melalui instruksi presiden sudah membuat sejarah sulit ditandingi: penggelontoran dana menerbitkan buku-buku untuk bocah-bocah di seantero Indonesia.
Di situ, dongeng terpilih diterbitkan dan diedarkan. Dongeng-dongeng lama dan baru. Pada masa Orde Baru, dongeng “masuk” urusan pemerintah. Kita menduga ada kebijakan-kebijakan wagu dalam pelestarian dongeng bertokoh si kancil atau “memaksa” dongeng wajib mengandung pesan-pesan pembangunan nasional.
Rezim Orde Baru berakhir menimpakan segala kecewa dan luka. Orang-orang belum ada keinginan menjadikan Soeharto adalah “bapak dongeng Indonesia” melalui inpres. Sekian orang memilih menghormati pendongeng bernama Soekanto, Suyadi, Seto, Murti Bunanta, dan lain-lain.
Pada abad XXI, kebijakan-kebijakan menteri atas dongeng mungkin berselera mutakhir alias menggunakan perabot dan program teknologis. Dulu, orang-orang belajar dongeng melalui buku bermutu susunan James Danandjaja berjudulFolklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain(1984).
Buku serius dari studi kepustakaan dan ketekunan mendatangi pelbagai tempat. Buku pantas meraih Penghargaan Yayasan Buku Utama, 1987. Kita “wajib” mengutip ketimbanag keblinger dalam mengartikan dongeng: “cerita pendek kolektif kesusastraan lisan.”
Pengertian belum cukup. Kita simak lagi: “Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran.”
Kita mewarisi dongeng melulu kancil gara-gara studi para sarjana dan pejabat Belanda, ratusan tahun lalu. Franka Franklin pun mengingat kancil saat mendongengkan ke murid-murid. Para sarjana menjadikan kancil melintasi zaman sampai terus teringat di abad XXI: JLA Brandes, BC Humme, Palmer, dan H Kern.
Para sarjana Indonesia ketularan membuat studi-studi meski tak moncer. Kancil pun masuk ke ruang-ruang kelas dan diomongkan pejabat berlagak menasihati publik. Kita jenuh dengan kancil!
Kini, kita berada di situasi tak berdongeng. Hidup keseharian sudah berisi kejutan, kehebohan, berlebihan, muslihat, dan kenekatan. Semua gara-gara ajakan menikmati segala hal bergantung digital.
Dongeng masih ada tapi cenderung mili komunitas-komunitas atau orangtua gampang prihatin dan sendu mengingat masa lalu: masa saat dongeng itu ketakjuban ketimbang benda-benda ajaib berpetaka di abad XXI.
Dongeng masih tema penting dan besar. Kehadiran dan pesan Nadiem Makarim dalam Hari Mendongeng Nasional itu bukti meski kecil dan klise. Hari-hari berdongeng lazim berubah dengan keberlimpahan berita bohong, gosip murahan, dan fitnah-fitnah jahanam.
Dongeng terpaksa milik bocah-bocah dan ibu di ranjang. Dongeng disahkan menjadi pengantar tidur alias membuat bocah memejam mata. Kita belum perlu mengusulkan ke menteri agar ada pelarangan ungkapan: “dongeng sebelum tidur” atau “dongeng pengantar tidur”.
Bocah belum sempat menikmati imajinasi sudah tidur terlelap. Dongeng berdampak ke tidur, bukan bergerak atau bekerja. Kita memastikan ungkapan itu bertentangan dengan seruan Presiden Joko Widodo menginginkan Indonesia itu kerja dan maju. Begitu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bandung-mawardi.jpg)