Bawaslu Jateng Waspadai Hoax di Pilkada 2020, Rofiudin : Bisa Jadi Ada Pola Baru
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah menyebut hoax atau informasi bohong yang terjadi pada Pemilu 2019, juga berpotensi mewarnai Pilkada 2020
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah menyebut hoax atau informasi bohong yang terjadi pada Pemilu 2019, juga berpotensi mewarnai Pilkada 2020 mendatang.
Koordinator Divisi Humas dan Hubungan Antar-Lembaga Bawaslu Jateng, Muhammad Rofiudin, menuturkan pada pemilu 2019 pola hoax yang digunakan berbagai macam.
Antara lain video, poster, tangkapan gambar (screenshot), bentuk teks, dan sebagainya.
"Pola hoax seperti itu bisa jadi berulang pada pilkada 2020.
Bisa jadi ada pola baru yang terjadi.
Ini tentu hal yang diwaspadai," kata Rofiudin usai diskusi bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Unit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jateng di MG Setos Semarang, Selasa (17/12/2019).
• Tak Perlu Khawatir, BI Tegal Siapkan Layanan Top Up Kartu Tol di wilayah Eks Karesidenan Pekalongan
• Temanggung Jadi Andalan Kementan untuk Pasok Benih Bawang Putih di Indonesia
• Irwansyah Optimis Pembangunan Alun-Alun Johar Selesai Akhir Desember 2019
• Diimingi Investasi Benda Antik, Korban Penipuan Umroh di Banyumas Dijanjikan Keuntungan Berlipat
Ia menjelaskan pada pemilu 2019, hoax yang beredar lebih banyak isu nasional karena berkaitan dengan pemilihan presiden.
Saat pilkada 2020 mendatang, dimungkinkan hoax yang terjadi mengarah pada isu lokal dan menyerang tokoh di level lokal.
Lantaran ruang lingkup pilkada besok sebatas kabupaten/kota.
Oleh karena itu, ia berharap masyarakat bisa cerdas mengabarkan informasi yang ada di media sosial.
"Biasanya hanya membaca judul langsung share (membagikan). Inginnya instan.
Hoax bisa diminimalisir dengan mendorong masyarakat agar berpikir mendalam," tegasnya.
Bawaslu menuturkan terus menggencarkan sosialisasi literasi dan edukasi ke masyarakat.
Serta berkolaborasi dengan kelompok masyarakat seperti Mafindo, NU, dan Muhammadiyah untuk bersama-sama menangkal dan menyebarkan virus anti-hoax.
Rofiudin tidak sepakat jika ada pembatasan akses internet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rofiudin.jpg)