Rumah Aira, Magdalena Tak Lelah Jaga Asa para ODHA
"Mah.. Beli eksrim," teriak Aira ketika melihat penjual es krim melintas di depan Rumah Singgah Aira, di Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang, Kota
Penulis: iwan Arifianto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Mah.. Beli eksrim," teriak Aira ketika melihat penjual es krim melintas di depan Rumah Singgah Aira, di Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (25/12/2019) pagi.
Magdalena tersenyum, tanda mengiyakan.
Aira pun berlari, disusul dua teman sebayanya.
Menghampiri penjual es krim yang berada di depan Rumah Singgah Aira yang bercat coklat dan berpagar hitam.
Meskipun satu di antara mereka terinfeksi HIV/AIDS, anak-anak itu tetap ceria, sehat dan aktif.
• Potensi Bencana Longsor Ancam Jalan Provinsi Menuju Kawasan Wisata Dieng
• Dir Pam Obvit dan Kapolres Demak Sempatkan Bantu 2 Warga yang Rumahnya Roboh DIterjang Angin Kencang
• Kecelakaan Pemotor Tabrak Truk di Pucang Gading Semarang Pagi Tadi, 1 Korban Meninggal di Lokasi
• BREAKING NEWS : Hujan Lebat, Dahan Pohon Ambruk Rusak Lampu Penerangan di Jalan Menteri Supeno
Senyum Magdalena tak surut-surut.
Sebab, itulah tujuannya mendirikan Rumah Aira.
Rumah singgah bagi para Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Yakni melihat para ODHA dapat terus tersenyum dan menjalani hidup lebih baik.
"Saya sering terharu bahagia ketika melihat mereka bisa bermain seperti anak-anak pada umumnya," kata Pendiri dan pengasuh tempat singgah dan panti asuhan Rumah Aira, Maria Magdalena.
Dia mengatakan mendirikan Rumah Aira pada 2015 lalu, yang berfokus pada penanganan ODHA.
Awalnya, dia prihatin dengan diskriminasi yang diterima pada ODHA.
Mereka seringkali dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat setelah mengetahui mereka telah mengidap HIV/AIDS.
"Tentu mereka bingung akan kemana, untuk itulah saya mendirikan Rumah Singgah ini," jelasnya.
Rumah Aira saat ini dihuni 9 ODHA, tiga dewasa rentan usia 30-40 tahun, tiga balita, dan tiga bayi berusia di bawah satu tahun.
Total yang pernah menghuni 29 orang, yang berasal baik dari Jawa Tengah maupun luar pulau Jawa.
Kini mereka telah sehat, lalu kembali ke keluarga mereka masing-masing.
"Ada yang kembali bekerja, sekolah, , dan aktifitas lainnya," katanya.
Magdalena juga prihatin dengan kondisi penyebaran virus HIV/AIDS.
Dia menyebut Jawa Tengah saat ini berada di posisi ke lima tingkat Nasional untuk penyebaran virus yang belum ditemukan obatnya ini.
"Saya juga banyak menemukan bayi dengan kondisi mengidap HIV.
Apa daya keterbatasan kekuatan dan tenaga tidak memungkinkan saya mengadopsi mereka semua," katanya.
Namun, Magdalena terus berusaha keras.
Rencana tahun depan akan membeli satu unit rumah seharga Rp 500 juta untuk dapat lebih banyak menampung para ODHA atau bayi lahir dengan HIV.
"Doakan saja semoga rencana Kami terealisasi.
Terima kasih juga dukungan para donatur yang telah membantu upaya kami," tutupnya. (iwn)