Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ini Saran Pakar Hidrologi Undip Semarang untuk Hindari Banjir Bandang

Belum lama ini Indonesia dihebohkan dengan banjir Jabodetabek yang menjadi 'kado' perpisahan tahun.

Penulis: faisal affan | Editor: muh radlis
AFP/NETTY DHARMA SOMBA
ILUSTRASI - Sejumlah bangunan rusak akibat terjangan banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (17/3/2019). Jumlah korban bencana banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (16/3/2019) malam kemarin, hingga data yang masuk pada Minggu sore, terus bertambah menjadi 63 orang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Belum lama ini Indonesia dihebohkan dengan banjir Jabodetabek yang menjadi 'kado' perpisahan tahun.

Banyak yang menyalahkan Gubernur DKI karena tidak becus mengatasi persoalan banjir yang kerap terjadi tiap tahun.

Namun menurut pakar hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ir Nelwan, mengatakan banjir tersebut tidak hanya karena faktor pengelolaan tata kelola kota.

Tawuran di Taman Indonesia Kaya Meluas hingga ke Semarang Utara, 6 Pelajar Ditangkap Beserta Sajam

Awal Kecurigaan Putri Hakim Jamaluddin pada Ibu Tirinya Sebelum Kasus Kematian Sang Ayah Terungkap

Pemain Multitalenta Asal Kendari Ini Tinggal Tunggu Panggilan, Resmi Bergabung di PSIS Semarang

Emak-emak Asal Salatiga Ini Hajar Mantan Pacar Anaknya Pakai Helm, Suntoro dan Ahmad Ikut Aniaya

Melainkan juga ada faktor alam lain yang mempengaruhi banjir tersebut.

"Berdasarkan data yang saya dapatkan, hujan setelah tahun baru merupakan yang tertinggi.

Maka untuk menyiasati hal tersebut perlu ada beberapa persiapan," ujarnya.

Dari mulai got hingga kanal harus dipersiapkan sedemikian rupa, supaya ketika terjadi hujan lebat seluruh air yang mengalir bisa ditampung.

Sehingga tidak melimpas ke jalan maupun permukiman warga.

"Setiap salurah air memiliki probabilitas.

Itu bisa dihitung berdasarkan volumen, sedimentasi, dan sebagainya.

Hitungannya bisa satu banding lima tahun dan seterusnya," jelas pria berusia 70 tahun ini.

Di Kota Semarang sendiri juga pernah mengalami banjir bandang tahun 1990, yang mengakibatkan klenteng Sam Poo Kong terendam hingga ketinggian lima meter.

Saat itu sungai Banjir Kanal Barat (BKB) yang lokasinya tidak berjauhan dengan klenteng, belum dinormalisasi seperti saat ini.

"Dahulu probabilitas kapasitas BKB satu banding sepuluh tahun ke depan.

Jika dibiarkan, Semarang diramalkan akan mengalami banjir bandang setiap 25 tahun sekali," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved