Ngopi Pagi
FOKUS : Galau Hati Dasabahu
SYAHDAN, malapetaka tengah merundung Kerajaan Sriwedari. Negeri kecil, yang berdiri di bekas taman sari Kerajaan Maespati, itu dilanda wabah penyakit.
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Betapa kaget Pandu setiba di Sriwedari. Negeri itu bak kampung mati. Sunyi. Penduduk tinggal sedikit.
Di istana, Patih Jayakusuma menyambut mereka. Selama Prabu Dasabahu pergi untuk mencari obat pagebluk yang melanda kerajaannya, Patih Jayakusumalah yang menjalankan roda pemerintahan. orang kedua di Sriwedari.
Kepada rajanya, Patih Jayakusuma menjelaskan, selama Prabu Dasabahu pergi ke Astina, semakin banyak penduduk Sriwedari yang meninggal terkena wabah penyakit. "Penduduk yang masih hidup, sebagian pergi mengungsi ke negara tetangga," katanya.
Singkat cerita, Pandu pun memulai upaya menangkal pagebluk. Atas petunjuk Kiai Semar, juga dengan Ilmu Pengabaran yang diperoleh dari Resi Bisma, Pandu pun sukses mengatasi pagebluk yang melanda Kerajaan Sriwedari.
Kisah Pandu yang terekam dalam lakon Pandu Nyirep Pageblug itu hadir ke kepala saya, seiring dengan merebaknya virus corona, beberapa hari belakangan.
Wabah serupa Sindrom Pernapasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia, pada 2002-2003, itu bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei, China.
Hingga Selasa (28/1), seperti disitat AFP, korban meninggal akibat virus dengan nama resmi Novel coronavirus atau 2019-nCoV dilaporkan telah mencapai 106 orang, dengan hampir 4.500 orang terinfeksi. Sebagian besar berasal dari Provinsi Hubei, lebih khusus lagi Kota Wuhan.
"Lo, Sampean anggep China lagi kena pagebluk ya, Kang. Ngawur ae," celetuk Dawir, sedulur batin saya, dari balik tengkuk.
Pelbagai isu berseliweran, bahkan berkembang sangat liar. Termasuk tentang azab Tuhan kepada China atas perbuatan mereka terhadap kaum Muslim Uighur, hingga senjata biologi yang bocor dari sebuah laboratorium di Wuhan Institute of Virology.
"Sampean ya percaya? Ngono kok nulis nggaya-nggaya nulis buku Dusta Yudistira: Awas, Hoax Bertakhta di Media Kita! barang. Koya!," sahut Dawir lagi, yang membuat saya tak bisa berkata-kata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)