Jumat, 12 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Hari Pers Nasional, Bedah Buku Dusta Yudhistira Karya Wartawan Tribun Jateng Achiar M Permana

Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2020, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pati menggelar bedah buku “Dusta Yudistira” karya Redaktur Tribu

Tayang:

Dalam buku kumpulan esainya, lanjut Achiar, dirinya menitipkan harapan kepada insan pers dan masyarakat konsumen media.

Pada kalangan wartawan, ia berharap mereka bisa lakukan kerja jurnalistik sesuai dengan bagaimana seharusnya wartawan bekerja. Di antaranya dengan tidak melepas kabar bohong.

“Di sisi lain, untuk masyarakat konsumen media, mereka harus cerdas membandingkan antara satu media dengan media lain. Mereka sebaiknya tidak mudah terpengaruh, tidak mudah percaya apa pun yang tersaji di media, karena tetap ada peluang kehadiran hoaks di sana,” ungkap dia.

Untuk diketahu, buku Dusta Yudistira berisi kumpulan esai Achiar yang memuat refleksi atas berbagai fenomena mutakhir dengan memadankannya pada berbagai kisah pewayangan.

Tema hoaks yang kemudian menjelma judul buku “Dusta Yudistira”. Sebagaimana media massa, Yudistira merupakan tokoh kesatria yang jujur.

Dalam satu kisah, ketika ditanya mengenai kematian Aswatama oleh Begawan Drona, Yudistira mengalami pergolakan batin.

Ia tahu pasti bahwa yang mati bukanlah Aswatama, melainkan Estitama, gajah yang dibunuh Bima atas perintah Sri Kresna.

Namun, Yudistira menjawab “Estitama telah mati” dengan “esti” samar dan “tama” lantang. Sehingga Begawan Drona menganggap Aswatama, anaknya, benar-benar mati.

Menurut Achiar, secara hukum positif, Yudistira tidak akan terbukti berbohong. Namun, secara substansi Yudistira bisa dianggap sengaja menjadikan makna ucapannya meleset di pikiran pendengarnya.

“Yang dilakukan media hari ini mirip dengan yang dilakukan Yudistira. Media selalu memiliki dalih telah sesuai kode etik jurnalistik di balik framing yang disajikan melalui berita-beritanya,” ungkap dia.

Sementara, Budayawan Pati Anis Sholeh Ba’asyin, dalam forum bedah buku dan diskusi, menyorot persoalan hoaks sebagai efek dari tarik-menarik antara kepentingan ekonomi, korporasi, pemodal, maupun politik media.

Ia juga menggarisbawahi rendahnya budaya literasi yang menurutnya kian memperparah fenomena hoaks. (Mazka Hauzan Naufal)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved