Tragedi Susur Sungai
Soal Tragedi SMP Negeri 1 Turi, Mahfud MD: Susur Sungai Kurang Bagus Kalau Pakai Rok
Tragedi susur sungai di Sungai Sempor yang menewaskan sejumlah siswa SMP Negeri 1 Turi, Sleman, Yogyakarta, menjadi perhatian Mahfud MD.
TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Tragedi susur sungai di Sungai Sempor yang menewaskan sejumlah siswa SMP Negeri 1 Turi, Sleman, Yogyakarta, menjadi perhatian sejumlah kalangan, termasuk Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD.
Dilansir dari Kompas.com, Mahfud MD pada Sabtu (22/2/2020), mengunjungi keluarga korban di SMP Negeri 1 Turi, Sleman, DIY.
Menurut Mahfud, sekolah tidak perlu takut mengadakan kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka.
Namun, sebelum melakukan kegiatan di alam terbuka, pihak sekolah perlu melakukan pengawas ketat dan mempersiapkan segalanya dengan matang.
• Isu Reshuffle Menteri, Ini Jawaban Risma Jika Ditawari Lagi Jadi Anak Buah Jokowi
• Berduka dengan Tragedi Siswa SMPN 1 Turi Sleman, Ganjar: Kami Siap Bantu Lakukan Pencarian
• Kepala SMP Turi Tak Tahu Ada Susur Sungai yang Tewaskan 9 Siswa hingga Respon Sultan HB X
• Kisah Mbah Wardi di Pati, 10 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot Berdinding Spanduk Kampanye Politik
Salah satu yang penting, menurut Mahfud, melihat segala macam risiko dan kemungkinan yang bisa terjadi. \
Selain itu, menurut Mahfud, perlu menyiapkan langkah-langkah guna menghadapi risiko-resiko yang mungkin timbul secara mendadak.
Misalnya dalam kasus susur sungai, pihak sekolah atau penyelenggara harus mempelajari keadaan cuaca terlebih dahulu.
"Kalau cuacanya tidak memungkinkan, lebih baik jangan berspekulasi," kata
Selain itu, menurut Mahfud, tata cara, perlengkapan yang dibawa hingga pakaian yang digunakan juga tidak kalah penting untuk disiapkan sejak awal.
"Kalau menyusur sungai misalnya, mungkin kurang bagus kalau memakai rok yang panjang, karena air bisa mendorong orang untuk dibawa oleh arus," kata Mahfud.
Mahfud meminta agar lembaga pendidikan di seluruh Indonesia bisa belajar dari kejadian di Sleman.
Namun, hal ini tidak lantas menghentikan kegiatan ekstrakurikuler.
"Bukan menjadi takut lalu menghentikan kegiatan yang sifatnya ekstrakurikuler, apalagi Pramuka," kata Mahfud.
Menurut Mahfud, Pramuka mendidik anak-anak untuk cinta kepada Tuhan.
Selain itu, mengajarkan untuk cinta kepada bangsa dan negara, serta mengajarkan mencintai alam.
"Itulah ajaran yang sangat penting bagi semua anak didik di Indonesia," kata Mahfud.
Ganjar siap terjunkan tim pencarian
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian nahas yang menimpa siswa SMPN 1 Turi Sleman.
Para pelajar dihantam banjir bandang saat mengikuti kegiatan Pramuka berupa susur sungai pada Jumat (21/2/2020).
Hingga kini, dilaporkan 9 orang pelajar meninggal dunia akibat musibah itu. Masih ada yang belum ditemukan. Sisanya luka-luka.
"Saya turut berduka cita atas peristiwa tersebut. Saya ikuti perkembangannya, beberapa teman juga terus memberikan laporan," kata Ganjar, dalam keterangan pers, Sabtu (22/2/2020).
Ia mengatakan siap membantu proses evakuasi apabila dibutuhkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng telah diminta untuk berkoordinasi dengan BPBD DIY.
"Kami siap bantu melakukan pencarian dan sebagainya apabila dibutuhkan. Meskipun kami yakin, BPBD DIY sudah memiliki tim yang sangat bagus, tapi kami siap membantu apabila dibutuhkan," tandasnya.
Atas peristiwa nahas itu, Ganjar mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati melakukan kegiatan di alam terbuka.
Mengingat, cuaca saat ini tidak bisa diprediksi dan tergolong masih ekstrem.
"Hati-hati betul karena cuaca seperti ini. Para pembina pramuka, guru dan lainnya harus menghitung persis kondisi alam apabila mau melakukan kegiatan petualangan," kata gubernur.
Menurutnya, risiko petualangan di alam bebas sangat besar, apalagi saat musim seperti sekarang.
Untuk itu, semua harus disiapkan dan dihitung betul agar tidak terjadi peristiwa serupa.
"Mungkin itu penting untuk belajar bagaimana hidup di alam. Tapi kalau kondisinya membahayakan, lebih baik ditunda.
Atau kalau memang harus dilakukan, harus dihitung betul dan dikawal oleh mereka-mereka yang ahli dan mengerti potensi yang membahayakan," ujarnya.
Respon Gubernur DIY Sri Sultan HB X
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyangkan kegiatan susur sungai yang diadakan SMPN 1 Turi, Sleman dilaksanakan pada saat musim hujan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya beberapa siswa SMP N 1 Turi, Sleman saat kegiatan susur sungai di Sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020) siang.
"Ikut berduka cita atas meninggalnya anak-anak dari SMPN 1 Turi di Kabupaten Sleman atas musibah pada waktu punya aktivitas menyusuri sungai," kata Sri Sultan dalam keterangannya seperti diunggah twitter Humas Pemda DIY @humas_jogja.
Namun di sisi lain ia juga prihatin dengan peristiwa tersebut dan menyayangkan mengapa kegiatan tersebut dilakukan di sungai pada saat musim hujan.
"Tapi juga saya prihatin kenapa justru pada waktu musim hujan ada aktivitas untuk menyusuri sungai," ucap Sri Sultan.
Ia berharap pihak sekolah bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
"Dan saya mohon pimpinan sekolah bisa bertanggung jawab atas musibah ini," kata Sultan
Ia mengimbau kepada semua tingkatan sekolah agar tak melakukan kegiatan di sungai ataupun di dekat sungai saat musim hujan.
"Saya hanya punya harapan kepada seluruh sekolah apapun tingkatannya,
ini musim hujan jangan melakukan aktivitas dan berdekatan dengan sungai, apalagi menyusuri sungai, itu jelas sangat berbahaya," lanjut Sultan.
Ia berharap peristiwa tersebut tidak terjadi lagi dikemudian hari.
"Saya minta para kepala sekolah, aktivitas kelompok masyarakat, aktivitas organisasi-organisasi yang lain, hindarilah musim hujan ini punya aktivitas untuk menyusuri sungai, untuk tidak terulang lagi," pungkas Gubernur DIY.
Sri Sultan sendiri telah mengunjungi SMPN 1 Turi Sleman pada Jumat (21/2/2020) malam.
Ditemani oleh GKR Hemas, Sri Sultan menemui orangtua korban siswa yang belum ditemukan.
Setibanya di sekolah, Sri Sultan dan GKR Hemas didampingi Bupati Sleman Sri Purnomo berdialog dengan para guru.
Seperti dilaporkan Tribun Jogja, seusai bertemu degan guru, Sri Sultan dan GKR Hemas mengunjungi orangtua para korban.
Sultan juga menyampaikan bahwa dirinya sudah menyampaikan ke BPBD DIY untuk mengeluarkan edaran agar tak melakukan kegiatan di sekitaran sungai selama musim hujan.
"Entah itu alasannya untuk bersih desa ataupun bersih kali dan lainnya, ditunda saja dulu. Nggak usah pada waktu musim hujan," tuturnya.
Kepala SMP Negeri 1 Turi tak diberi laporan
Dilansir dari Kompas.com, Kepala SMP Negeri 1 Turi, Tutik Nurdiyana, mengaku tidak mengetahui program kegiatan susur sungai. Namun demikian, kegiatan tersebut merupakan program lama.
"Kami atas nama sekolah mohon maaf atas terjadinya musibah ini yang benar-benar tidak kami prediksi dari awal, tidak menduga," ujar Tutik dalam konferensi pers di sekolahnya, Sabtu (22/2/2020).
Tutik menyampaikan, SMP Negeri 1 Turi mempunyai ekstrakurikuler Pramuka.
Kegiatan Pramuka digelar setiap hari Jumat dari pukul 13.30 WIB sampai 15.30 WIB.
Kegiatan susur sungai merupakan program rutin pada ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Turi.
"Bagi kami, mungkin anak-anak penduduk Turi, mereka familiar dengan lingkungan Turi, jadi bukan hal yang khusus," katanya.
Menurut dia, ada tujuh orang yang mendampingi saat kegiatan susur sungai.
Mereka merupakan guru-guru di SMP Negeri 1 Turi.
Kegiatan susur sungai ini, lanjutnya, murni kegiatan SMP Negeri 1 Turi.
Kegiatan Pramuka susur sungai merupakan program lama.
"Saya di sini kepala sekolah baru, baru 1,5 bulan, program-program ini melanjutkan yang lama. Semester kemarin sudah ada program seperti itu," katanya.
Tutik mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan susur sungai pada Jumat (21/2/2020). Sebab, para pendamping tidak memberikan laporan.
"Jujur, saya tidak mengetahui adanya program susur sungai di hari kemarin itu, mereka tidak matur (laporan). Karena mungkin menganggapnya anak-anak biasa, anak Turi susur sungai itu hal biasa," katanya.
Sembilan pelajar tewas
Sebelumnya, Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban siswa yang hanyut di Sungai Sempor saat mengikuti kegiatan Pramuka susur sungai.
Saat ini, ada satu korban lagi yang masih belum ditemukan.
"Pukul 10.15 WIB ditemukan satu korban," ujar Koordinator Humas Basarnas Yogyakarta, Pipit Eriyanto, Sabtu (22/2/2020).
Korban yang ditemukan itu berjenis kelamin perempuan.
Tim SAR menemukan korban di daerah DAM Lengkong.
Tim SAR gabungan kembali menemukan satu lagi korban pada pukul 10.35 WIB. Korban yang ditemukan berjenis kelamin perempuan.
"Pukul 10.35 WIB ditemukan satu korban di DAM Polowidi. Jadi total yang sudah ditemukan sembilan orang, dan satu masih dalam pencarian," ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menuturkan, korban saat ini langsung dibawa ke Puskesmas Turi.
"Menuju Puskesmas Turi untuk dilakukan identifikasi," bebernya.
Tim SAR gabungan sampai saat ini masih terus melakukan proses pencarian terhadap satu korban lagi.
Jarak pencarian dilakukan dengan menyusur sungai.
"Kira-kira tim pencarian jaraknya sekitar 6-7 km dari titik awal kejadian," ungkapnya.(*Kompas.com/Tribun Jateng/Mamduh)